12 May 2012

Dari “Arsip Personal” ke “Arsip Nasional”

:gusmuh
 
Dunia arsip adalah dunia buangan, kata amtenaar negara. Nasibnya mirip dengan perpustakaan, yakni ruang isolasi bagi amtenaar yang punya catatan budi pekerti buruk.
Tapi bagi pencinta arsip dan artefak, arsip adalah labirin perjalanan masa silam yang menakjubkan. Oleh karena itu menggeluti dunia pengarsipan memang mula-mula mensyaratkan adanya hasrat menggelora, rasa senang yang menggelumbang-gelumbang, dan juga keterlibatan hidup yang total.

Semua prasyarat itu dipunyai DR Melani W Setiawan ketika di Galeri Nasional Jakarta di bulan April 2012 ia secara resmi mengumumkan kepada publik (senirupa) arsip personalnya yang berjumlah gigantik dalam rentang waktu 4 dekade.

Buku trilogi Dunia Seni Rupa Indonesia, 1977-2011 karya Melani itu unik karena kesahajaannya. Pertama, ini “foto bersama” yang sebetulnya lazim dilakukan. Karena itu 3 ribu dari 45 ribu foto arsip yang tersaji di dalamnya nyaris semuanya menampilkan wajah Melani dan tak punya pretensi untuk menampilkan secara utuh linimasa kehidupan seniman, karya, dan komunitas-komunitas mereka.

Kedua, lantaran impresi dan keterlibatan langsung di hampir semua momen peristiwa senirupa selama 4 dekade, wajah-wajah dalam “foto bersama” itu mengalami perubahan komposisi. Ada wajah yang hilang dan ada pula pendatang baru. Ada wajah seniman dengan dandanan kucel-berminyak di awal karir kesenimannya, tapi beberapa dekade kemudian tampil subur dan gembira.
Read More..

03 May 2012

Buku yang Membara

sumber: detiksurabaya

oleh gusmuh


Sepanjang satu dasawarsa sejak abad alaf ini disambut dengan gegap-gempita, isu penyingkiran buku dari ruang publik begitu mengemuka. Abad yang disebut Marlyn Ferguson sebagai “The Aquarian Conspiracy” ini mengetengahkan perseteruan abadi antara api dan buku. 

Paling tidak ada dua jenis buku yang selalu jadi sasaran amarah itu: (1) buku-buku yang dikeluarkan organisasi keagamaan yang diberi cap “sesat” oleh Majelis Ulama Indonesia dan (2) buku-buku yang tersasar oleh ajaran “komunisme-marxisme-leninisme”.

Khusus untuk buku-buku bertagar #PKI, #Komunisme, #Marxisme, #Leninisme, kita bisa menemukan linimasa-nya dengan mudah. Dan di linimasa “buku yang membara” itu tercetak nama Dahlan Iskan.
Read More..

20 April 2012

Pengarsipan Total

::gusmuh

Berita terbaru dari Yogyakarta soal pemusnahan enam ribuan arsip pemerintah nyaris menjadi cerita biasa. Seperti setahun silam terdengar samar-samar arsiparis UGM memusnahkan buku-buku tua yang “tak berguna” lagi. Pegawai-pegawai rendahan Balai Pustaka terlampau biasa melempar koleksi-koleksi koran dan majalah tuanya ke juragan bubur kertas sebelum dinyatakan pailit pada Februari 2012.

Alibi yang nyaris klasik mengiringi upacara pemusnahan itu: kekurangan sumber daya manusia, miskin modal, dan terbatasnya ruang tangkar arsip.

Membaca sederet kenyataan itu seperti memalang usul-usul baru yang segar dan inovatif. Misalnya, usul mewajibkan negara mengarsipkan jutaan “kicauan” atau “status” warga negara per hari di media sosial, seperti dilakukan Library of Congress sejak satu dekade silam.

Tapi di tengah sikap amtenaar yang tak panjang akal (baca: kreatif) memperlakukan memorinya bangsanya sendiri, kita selalu digembirakan oleh tindakan segelintir komunitas yang menampilkan kerja-kerja arsip dengan gayeng dan penuh minat.

Saya deretkan kroniknya. Pada 2009 akhir Biennale Jogja menjadikan arsip sebagai gerakan kota menyeluruh. Komunitas-komunitas “dipaksa” mengeluarkan arsipnya. Sejak 2011, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) mengeluarkan katalog arsip seni mereka yang kaya. Ikhtiar itu memancing Indonesian Street Art Documentation di Jakarta turut membangun dokumentasi atas “seni rupa jalanan”. Pesta perayaan terkini tentu saja di Galeri Nasional pada April 2012 ketika arsip personal Melani Setiawan tentang dunia senirupa Indonesia selama 4 dekade diluncurkan.

Di luar dunia senirupa itu masyarakat pelbagai minat memiliki kesadaran yang sama atas pentingnya arsip dan memamerkannya kepada publik lewat pameran dan diskusi. Mulai dari peminat soal-soal keris, batik, wayang, permainan tradisional, agraria, sepeda onthel, buku, humor, dan bahkan layang-layang.

Komunitas-komunitas itu pastilah menciptakan dan memiliki arsip-arsip yang unik, semacam foto, notulensi rapat (cetak atau audio), kontrak kerja, surat-menyurat tercetak dan digital, kaset atau file video, kliping media massa, bahkan catatan sms maupun rekaman percakapan-tulis di media sosial.

Kegairahan itu bisa menjadi gerakan nasional yang utuh dan sistemik, seperti yang terjadi di Kanada, jika negara memiliki visi besar: Arsip Total. Pengertian “Arsip Total" di sini adalah ikhtiar nasional menyatukan seluruh kerja kearsipan dari semua lini kebangsaan: mulai dari pemerintah, swasta, hingga ke ranah individu-individu.

Ini butuh dana besar tentu saja. Mengharapkan hari-hari ini pemerintah mengeluarkan dana tanpa batas untuk proyek “politik arsip” juga imaji keterlaluan. Tapi dengan “cinta-buta” yang keras kepala ini kita tak bosan-bosan ingatkan pemangku negara soal pentingnya “politik arsip” dengan meminjam kutipan penulis seni Christine Cocca (2012: 12) ihwal kebijakan arsip Hindia Belanda yang menjajah kita selama “350 tahun”.

Pada medio abad 19, pemerintah Hindia Belanda menugaskan fotografer resmi untuk mendokumentasikan monumen dan artefak di Jawa yang seakan-akan dilakukan guna mendukung riset arkeologis. Penjajah menggunakan kamera sebagai alat propaganda nilai-nilai kolonial yang vital dan guna menangkap praktik-praktik kolonial secara tercetak di Nusantara dalam rangka membangun kekaisaran berbasis pengetahuan kearsipan dan tak terpisahkan dari rezim keamanan nasional.

Sepanjang abad 19 itu permainan utama ekspansi imperial adalah permainan kepemilikan dominasi spasial di mana ada pihak dengan kapasitas lebih besar mengontrol arus informasi melalui arsip.

Ketika arsip fotografi yang didapatkan dari dari 100 institusi itu didaringkan saat ini, kita bisa membaca sebagai ilustrasi dari monumen ingatan bagi orang Belanda bagaimana misi-misi fotografis ini membantu bagi ekspansi politik dan ekonomi. Tampak ribuan citra Hindia Belanda—manusia, lanskap, perdesaan, upacara-upacara, momen.

Terkaget-kaget kita kemudian bahwa arsip bukan semata soal usaha menyimpan, tapi juga penggunaannya untuk kepentingan ekonomi bangsa yang lebih luas. Alibi arsiparis yang menjadi abdi dalem pemerintah bahwa mereka kekurangan sumber daya alam dan modal memang sebaiknya harus dikubur melebihi kedalaman galian mata bor terkutuk PT Minarak Lapindo.

Kita, misalnya, patut memaksa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membeli semua buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan cara menyambangi hingga kabupaten terkecil.

Jadi, amtenaar-amtenaar PNRI itu bukan hanya duduk di kantor bermain gaple-digital sambil menunggu datangnya buku-buku dari penerbit. Beli semua buku itu. Yang tipis atau yang tebal. Buku penulis terkenal atau pemula. Buku saleh atau salah. Sebab jika tidak, sebagaimana sistem yang bekerja di pasar loak Jakarta, buku-buku itu masuk ke penjagalan dan dimusnahkan menjadi bubur kertas.

Ketika pemerintah mengeluarkan dana triliunan untuk sensus penduduk, mengapa tak berpikir efisien dan jangka panjang menggaet komunitas semacam Combine Resources Yogya dan “siswa-siswa” Onno W Purbo yang pintar-pintar untuk melatih karangtaruna membuat arsip desa berbasis digital. Arsip desa itu tak hanya berguna untuk sensus, tapi untuk segala hal yang terkait dengan usaha “penyejahteraan” warga.

Dan yang pasti, data yang dikelola oleh warga sendiri lebih akurat ketimbang data yang dibikin pemerintah pusat lewat “relawan-relawan” musiman bayarannya.

Dimuat di Koran Tempo, "Pendapat", hlm A11
Read More..

13 April 2012

Jejak Indonesia dalam Empat Tonggak

:gus muh

Membaca (karya) Pramoedya Ananta Toer adalah membaca sejarah Nusantara beserta tragika-tragika manusianya. Untuk masuk ke liang sumur berabad-abad lewat itu, Pram memakai metode yang paling dimahirinya, yakni roman. Ia menunggangi salah satu bentuk penulisan kreatif paling purba itu untuk menunjukkan tonggak-tonggak khas (perubahan) politik masyarakat (baca: Jawa).

Dan ciri khas nyaris semua karya Pram adalah hadirnya tokoh-tokoh pinggiran dalam sejarah sebagai protagonis. Dan nyaris semua-mua tokohnya itu kalah, kecuali karya yang ditulis semasa ia bergiat di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra-PKI), seperti Sekali Peristiwa di Banten Selatan.

Paling tidak ada empat tonggak, sebagaimana nanti terbaca dari (sebagian) pilihan karya Pram yang dilakukan Koh Young Hun di buku ini yang menurutnya “berkesinambungan dalam penceritaan” (h xvii). Keempat tonggak itu adalah: (1) Masa Kerajaan Hindu-Budha; (2) Masa Islam (Demak dan Mataram); (3) Masa Kolonial; dan (4) Masa Republik.

Tonggak pertama diwakili oleh tiga roman tebal dan satu naskah drama. Sebut saja "Tetralogi Nusantara": Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan Mangir.

Arok Dedes sebagaimana penjelasan Koh dari halaman 275 hingga 305, tak sekadar mengelap ulang Kitab Pararaton versi Keraton, tapi menegaskan politik Jawa yang khas: licik, munafik, dan tertutup. Di novel ini, mitos keris Empu Gandring ditanggalkan dan dijadikan sepenuh-penuhnya tautan tiga elemen: agama, politik, dan (para)militer.

Jika Arok Dedes adalah tonggak bangkitnya kerajaan Jawa yang kuat secara maritim di abad 13, maka Mata Pusaran adalah luruhnya peradaban Majapahit pasca Singhasari. Namun, Koh mengabaikan novel penting yang separoh fisiknya raib oleh vandalisme Orde Baru ini untuk melacak jejak Pram membaca Nusantara via Majapahit. Buktinya, seupil pun Koh tak menyebut bahkan sekadar judul di daftar karya Pram di halaman 347 hingga 358.

Koh langsung loncat ke novel gemuk Arus Balik. Dari dermaga Tuban, Pram memperlihatkan gemuruh kekalahan segala-galanya dari Negeri di Atas Angin (Portugis). Kerajaan Islam yang diwakili Demak Bintoro, alih-alih memperlihatkan keperkasaannya menahan laju jung-jung Peranggi, malahan terus menarik diri ke pedalaman. Warisan armada maritim yang perkasa pun berubah menjadi angkatan darat dengan watak agraris dan asyik bertengkar dengan sesame. (h 258)

Padahal menurut Pram, sebagaimana dikutip Koh: "Jawa ini kecil, lautnya besar. Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah; barangsiapa kehilangan laut, dia kehilangan darat." (h 266)

Demak luruh, muncullah Mataram pada abad 17 M. Koh sadar momen ini penting, sebagaimana dijelaskannya pada Bab V (h 161-162). Tapi mengajukan roman Gadis Pantai sebagai latar pemerintahan Islam-Mataram kurang banyak membantu. Karya paling tepat—dan tentu saja “berksenimbungan dalam penceritaan” untuk menggambarkan masa ini—adalah naskah drama Mangir.

Strategi literer Pram di naskah ini tak menceritakan gelanggang pusat Mataram, melainkan memutar ke pinggirnya. Ia berkisah tentang Ki Ageng Mangir Wanabaya di selatan Mataram (Bantul sekarang) yang dianggap pembangkang—setara dengan tokoh Samin yang diudar Koh sepanjang Bab IV buku ini.

Dari sudut tokoh Mangir, Pram menembak penguasa Mataram, Panembahan Senopati, sebagai penguasa licik yang bahkan puterinya sendiri pun tak segan diumpannya untuk menghabisi lawannya.

Sebagaimana di Arok Dedes, pada Mangir Pram menghancurkan dua hal yang dibabar Babad Mangir ciptaan Bangsawan Keraton, yakni mitos pusaka Baru Klinting dan proses kematian Mangir yang kesatria di Alun-Alun Mataram (Kota Gede). Pram menempatkan Mangir sebagai pembangkang yang punya cita-cita dan kecerdasan politik, dan bukan anak muda yang sekadar beroleh kekuatan dari bantuan makhluk halus.

Tonggak Kebangkitan

Jika "Tetralogi Nusantara" memperlihatkan jatuh dan luruhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara (Singhasari-Maritim), maka "Tetralogi Bumi Manusia" membawa pembaca pada suasana perjuangan yang sama sekali berbeda dengan masa silam. Yakni dengan jalan pers dan pergerakan. Sementara bahasa (Melayu-Pasar) dipakai Minke sebagai bagian inti penyadaran politik. (h. 102)

Minke yang menjadi protagonis memikul dua beban jalan itu dengan ditopang srikandi utama yang namanya kemudian abadi: Nyai Ontosoroh. Perempuan gundik ciptaan Pram inilah yang jadi lilin-sadar awal Minke untuk tak terpukau pada Barat, tapi juga tak terlena dalam dunia priyayi yang feodal (h 163); tak hanya bisa bergaul dengan pembesar, tapi juga bisa ngajeni petani. Ketika mengkritik habis-habisan feodalisme dan advokasi pada kaum papah inilah Pram dituduh menyelundupkan (ajaran) marxisme dan leninisme. (h. 105-119)

Minke dan semua tokoh yang dipanggungkan Pram kalah. Tapi kekalahan Minke sukses membibitkan gerakan yang lebih luas. Sjarekat Dagang Islamiyah yang disemainya pada 1909 berubah menjadi organ bermassa besar dan disegani yang tahun 2012 genap seratus tahun: Sjarekat Islam. Pergerakan dengan jalan pers yang dirintis Minke juga menjadi model bagi pemimpin-pemimpin pergerakan kemudian hari.

Proklamasi adalah puncak dari seluruh keringat yang diperas di fase awal abad 20 ini. Proklamasi juga dipatok sebagai tonggak peralihan: dari fase kebangsaan (nation) menuju pembentukan struktur kenegaraan (state).

Namun, lagi-lagi Koh abai memberi tekanan pada pergulatan Pram bergolak dalam kecamuk Revolusi Agustus ini. Sebetulnya beberapa karya penting Pram bisa dipakai Koh untuk memperlihatkan masa-masa ketika Indonesia susah-payah membangun infrastruktur kenegaraannya, seperti Keluarga Gerilya, Larasati, Perburuan, dan Mereka Yang Dilumpuhkan.

Yang paling memukau tentu saja Di Tepi Kali Bekasi. Menurut saya roman ini lebih kuat dari Keluarga Gerilya, yang disebut Koh secara sekilas sebagai “novel yang padat dengan persoalan kemanusiaan” (h 231).

Selain memperlihatkan cara bertutur Pram yang cepat dan cekatan, roman Di Tepi Kali Bekasi juga membongkar bagaimana Revolusi Agustus ini dihela oleh watak-watak lemah pemimpin yang terus-menerus kita warisi hingga kini.

Nah, dari pembacaan ringkas ini, juru bicara Sastra Indonesia di Semenanjung Korea ini justru tak konsisten dengan pernyataannya di bagian pendahuluan buku ini: memilih 7 karya Pram dengan alasan “berkesinambungan dalam penceritaan”. Nyatanya, ada beberapa karya penting Pram luput yang itu memberi latar kuat pada ikhtiar “Mencari Jejak Indonesia”.

Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia
Penulis: Prof Koh Young Hun
Penerbit: Gramedia, Desember 2011
Tebal: xxix+407 hlm

Read More..

23 March 2012

Aku Mendakwa Hamka Plagiat (AMHP)! #Sidang 9

Hampir setahun Sidang Pembaca I:BOEKOE tak menggelar persidangan. Kali ini kami hadir lagi dengan menyeret sebuah buku karya kawan sebelah kamar: Muhidin M Dahlan. Buku yang disidang adalah karya terbaru Gus Muh (Panggilan karib MMD) dengan judul yang cukup ‘garang’ : Aku Mendakwa Hamka Plagiat (AMHP)! Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 terbitan ScriPtaManent dan Merakesumba (2011).

Mengenai apa isi dan untuk apa buku ini disusun, di sampul belakang Gus Muh dengan gambling menuliskan:

Plagiat Hamka pada tahun 1962 menjadi salah satu isu skandal sastra yang menghebohkan. Bukan hanya tensi perdebatannya, keterlibatan masyarakat sastra, tapi juga lama dan keluasan publikasi. Nyaris semua Koran nasional dan juga beberapa di daerah merekam peristiwa ini.

Sebagai penarik pelatuk, Pramoedya Ananta Toer dan Bintang Timur/”Lentera” sudah mengukuhkan niat mempersiapkan “buku dakwaan’ yang utuh dengan judul sengak :”Hamka Plagiator”. Apa boleh buat, niat itu disalip H.B. Jassin bersama Junus Amir Hamzah dengan menerbitkan kumpulan tulisan berjudul:Van der Wijck dalam Polemik.

Lantaran itu buku ini bertujuan untuk menyatukembalikan lagi halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/”Lentera” antara tahun 1962-1964. Juga boleh jadi, menjadi pengantar ala kadarnya untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965.

Oleh karena itu, buku skandal sastra ini dipersembahkan untuk generasi sastra yang terbarukan, pasca Pram, pasca Jassin, dan pasca petarung-petarung dalam palagan sastra Indonesia 1960-an yang riuh rendah yang beberapa kepala masih hidup sampai saat ini dengan membawa dendamnya masing-masing.


Jadi, buku ini adalah sebuah upaya memberikan opsi baru mengenai sejarah sastra Indonesia. Sejarah sastra yang selama ini dipelajari di ruang akademik adalah sejarah a la penguasa. Muhidin merekonstruksi ulang sejarah panjang polemik plagiasi Hamka itu menjad suatu kisah yang utuh. Muhidin berusaha menyusun ulang kronologinya dari data-data yang ia miliki. Data Muhidin ini begitu beragam. Mulai Koran Kedaulatan Rakyat, Kompas, Tempo, hingga Bintang Timur, Harian Rakjat, Gema Islam, Sinar Harapan, dan Suluh Indonesia. Data-data itu kemudian ia tambahkan dengan data-data lain mengenai perkembangan isu plagiasi di Indonesia.

Dalam penutup buku ini, sikap Muhidin tegas. AMHP adalah salah satu cara menghormati mereka yang tetap waspada bahwa berkesenian mestilah ditempuh dengan jalan yang sehat, penuh keringat, dan bukan jalan kotor dan asal terabas untuk merengkuh popularitas.

Tawaran solusinya juga jelas. Mengusahakan lembaga atau komisi ad hoc seperti Komisi Sastra Indonesia atau Dewan Sastra Indonesia seperti berlaku di bidang HAM, pers, perempuan, penyiaraan, kehakiman, konstitusi, maupun korupsi. ini agar plagiasi di ranah sastra memiliki hukum yag jelas, kesepakatan bersama tentang ukurannya, dan agar plagiator tak terus mendapatkan kehormatannya karena sikap permisif pelaku sastra sendiri. (DS)

Data Kartu Tanda Buku

Judul: Aku Mendakwa Hamka Plagiat! Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis: Muhidin M Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent dan merakesumba
Tahun Terbit : 2011
Tebal: 238 hlm
Ukuran: 12 x 19 cm (Paperback)
ISBN: 978-979-99461-5-7
Harga: Rp 38.000


DAFTAR ISI

Pembuka: Antara Fitnah dan Ludah

Bab 1: Van Der Wyck dalam Dua Resensi
Bab 2: Perang Terbuka di Hari Jumat
Bab 3: Lentera, Plagiat Itu Menjijikkan
Bab 4: Hamka dalam Peta Sastra Indonesia Semasa
Bab 5: Bukti-Bukti Plagiarisme Hamka
Bab 7: “Varia Hamka” dan Pendapat Pembaca
Bab 8: Bersama Membela Hamka
Bab 9: Menguji Pertahanan H.B. Jassin
Bab 10: Magdalena dalam Dua Terjemahan
Bab 11: Plagiat Hamka: Saling Serobot di Lintasan Terakhir
Bab 12: Tak Ada Jalan Tengah, Pintu Tertutup

Penutup: Plagiat, Keributan Omong Kosong, dan Kehormatan
Read More..

Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Pendapat Dewan Pembaca

Tentang Penulis
Pembicaraan pertama mengenai buku AMHP dimulai dari pendapat Dasman Djamaluddin, seorang yang mengaku sebagai sejarawan, ia menulis di facebooknya pada Kamis, 23 Februari 2012 , 20:38 WIB:

Penulisnya Muhidin M.Dahlan, tetapi tidak seorang pun mengenal siapa sebenarnya si penulis tersebut, karena identitasnya tidak ada bahkan banyak di antaranya meraba-raba siapa Muhidin M.Dahlan. Menurut saya ini sudah merupakan kelemahan dari sebuah buku. Tidak ada tanggungjawab di dalamnya. HAMKA BUKAN PLAGIATOR


Komentar ini memancing reaksi dari anggota sidang yang lain, Rama Prabu langsung menanggapi sengit:

Pak Dasman sepertinya tidak membaca halaman 231. Di situ jelas-jelas ada informasi mengenai penulis. Tidak ada yang lempar batu sembunyi tangan di sini. Lagi pula, nama Muhidin cukup dikenal publik luas, kalaupun tidak, informasi mengenai dirinya bisa dicari di mesin pencari data.


Lubabun Ni’am, seorang penekun sejarah pula, menuliskan:

Saya mungkin termasuk orang yang belum lama mengenal penulis buku ini, Muhidin M Dahlan atau para karib kerap menyapanya Gus Muh. Tapi, tampaknya tak perlu lama bagi setiap orang yang telanjur mengenal penulis buku ini, dia akan mencirikan betapa penulis trilogi Lekra Tak Membakar Buku ini tekun dan gigih pada arsip, dokumentasi historis, terutama lewat kliping. Buku ini digarap dengan gaya serupa itu untuk menimba kembali memori sejarah sastra kita, yang sepertinya tak kunjung beranjak dari daki-daki yang mengotori altar agung penciptaan. Salah satu “daki sastra” itu dilakukan oleh seorang ulama cum sastrawan tersohor: Hamka.


Pendapat Ni’am didukung oleh Ahmad Subhan, anggota sidang dari perpustakaan IRE. Lebih jauh, ia berusaha membidik sudut pandang Muhidin yang kental dengan Pram.

Tidaklah terlampau sulit mencari tahu dan mengenal profil MMD melalui tulisan-tulisannya. Simak judul-judul karya tulisnya yang khas berikut ini: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Kabar Buruk dari Langit, Pak Polisi: Mentor Riset Menulis Kreatif, Karena Njiplak Kerja Terhormat, Bangsa yang Tak Merawat Diri. Bagi saya, judul-judul tersebut menunjukkan kepribadian MMD yang ingin memancing emosi pembaca, baik itu tawa, rasa penasaran, bahkan kegusaran.

Berlandaskan cara pandang yang subyektif ini, saya berpendapat bahwa Pramoedya Ananta Toer (PAT) adalah super-ego bagi MMD. Kerja-kerja MMD bagi saya adalah “edisi baru” kerja-kerja PAT. MMD yang mengaku sebagai Kerani di Indonesia Buku seolah meneruskan kerja-kerja PAT, salah satunya yang paling nyata adalah penyusunan Kronik Indonesia. PAT dikenang sebagai pengliping yang tekun serta peneliti dengan metode sejarah lisan, hal yang sama MMD kerjakan pada situs www.indonesiabuku.com dan www.radiobuku.com, yang mana dua-duanya sama-sama merekam teks-teks peristiwa dan suara-suara pelaku sejarah.

Identifikasi jati diri tersebut kembali saya temukan dalam AMHP. Nampak jelas MMD berpihak pada PAT, Lentera, dan para penulis yang MMD sematkan label gagah: “petarung-petarung dalam palagan sastra Indonesia” (hal. 11). Maka sangat jelas bagi saya, MMD memilih judul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat”, yang sejatinya adalah judul artikel dalam surat kabar Bintang Timur/Lentera karya Abdullah Said Patmadji, sebagai judul utama buku ini adalah bentuk keberpihakan MMD pada Redaksi Lentera yang mendakwa Hamka menjiplak karya saduran Musthafa Lutfi Al-Manfaluti (Majdulin) atas karya Alphonse Karr (Sous les Tilleuls) menjadi roman Tenggelamnya Kapal van der Wijk.


Mendapat serangan bertubi, Dasman menulis lagi:

Saya bertanya tidak tahu penulisnya. Itu kalimat yang ingin menggali lebih dalam siapa sebetulnya penulis buku Hamka sebagai Plagiator? Bukan tidak kenal, hanya inggin lebih tahu mengapa masalah lama harus diungkap kembali. Apa manfaatnya untuk masyarakat. Selain itu, Hamka telah almarhum. Kalau kita ingin menyelesaikan masalahnya, ketika sumber primer tidak ada maka hasilnya akan bias. Tidak mungkin terselesaikan dengan baik, apalagi ada dua pendapat mengenai hal ini. Jadi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pengungkapan masa lalu atau mengulang-ulang sejarah pun harus ada motivasinya. Saya selalu menulis tentang Supersemar, dikarenakan Supersemar Asli tidak pernah diketemukan. Jadi hanya mencoba mengingat kembali betapa pentingnya surat itu untuk penelitian di berbagai perguruan tinggi. Untuk ilmuwan bukan untuk politikus. Atau seperti Pak Roeshdy yang mencoba mengulang sejarah masa lalu demi generasi muda. Banyak di antara kita lupa akan sejarah, sementara sejarah itu penting untuk masa kini demi memperbaiki kehidupan bangsa dan negera ke depan. Jika seseorang tidak mau belajar dari sejarah biasanya akan jatuh ke lobang yang sama.


Menanggapi reaksi Dasman itu, Ahmad Subhan berpendapat:

Bisa jadi para pembaca, apalagi yang kebakaran jenggot, berkesimpulan bahwa MMD mewarisi dendam para petarung dalam palagan sastra Indonesia 1960-an, sehingga MMD menerbitkan ulang polemik yang berpangkal dari dakwaan pada Hamka sebagai plagiator. Bisa jadi kesimpulan itu ditarik setelah membaca tulisan pembuka buku ini: Antara Fitnah dan Ludah (hal. 7-12), kemudian mengenal pribadi MMD yang jelas-jelas berpihak pada PAT dan Lentera. Namun saya menimbang kembali kesimpulan demikian setelah membaca tulisan penutup buku ini: Plagiat, Keributan Omong Kosong, dan Kehormatan (hal. 191-229). Bagi saya, pembaca dapat tergelincir menjadi reaksioner bila mendakwa MMD seolah kembali meludahi Hamka, sebagaimana dakwaan Taufiq Ismail pada PAT.

Bagi saya, AMHP adalah lentera baru bagi dunia kepenulisan Indonesia, baik fiksi dan non-fiksi, yang tengah dijalari belukar gulma plagiarisme. Ya, MMD yang adalah pemilik “blog neraka” ini telah menyalakan kembali lentera yang padam sejak 1965.


Hernadi Tanzil dengan tenang mengakui:

Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar2 Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini.


Tapi Dasman kemudian memutar lagi dan menambahkan data-data baru:

Saya melihat permasalahan ini tidak beda dengan polemik “Harian Merdeka” yang didirikan B.M.Diah dengan “Harian Rakyat” yang dikuasai Partai Komunis Indonesia (PKI). sekitar tahun 1964. Saya ingin menegaskan bahwa untuk melihat sejarah jangan sepotong-sepotong. Kita harus mengetahui terlebih dulu pada masa apa polemik itu berlangsung. Sama halnya dengan tuduhan plagiat terhadap Hamka di mana sudah terjadi pada tahun 1962 di Harian Bintang Timur.

Perlu kita pahami polemik di sekitar tahun itu (1962-1964) tidak murni lagi polemik sebagaimana seorang ilmuwan. Polemik sudah mengarah ke fitnah, adu domba, sebagaimana sifat warga komunis di Indonesia yang benci dengan Islam. Perlu diketahui bahwa Hamka seorang Muslim sejati. Tidak hanya itu, PKI juga waktu itu menginginkan agar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dibubarkan. Jadi persoalannya bukan sebatas dunia sastra, tetapi sudah mengarah ke perbedaan yang amat jelas antara PKI dan Islam.

Untuk lebih memperjelas, saya melakukan pertemuan dua kali dengan Ahmad Hussein di Jakarta. Beliau adalah Ketua Dewan Perjuangan yang mendeklarasikan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Apa yang dikatakannya, “Kami mengultimatum pemerintah, karena anggota-anggota PKI sekitar tahun 1958 sudah banyak mempengaruhi pikiran Presiden Soekarno. Kami ingin Soekarno sebagai Presiden tidak terpengaruh. Jadi kami bukan pemberontak, karena kami pejuang juga dan sangat mencintai tanah air sendiri.” Singkatnya pada tahun 1958 pengaruh PKI sudah merambah ke mana-mana, termasuk di bidang kebudayaan. Yang menjadi musuh utama PKI adalah Islam dan identik dengan Hamka.

Jadi tidak ada yang baru dengan buku ini, polemik ini sudah dihentikan di saat-saat pecahnya Pemberontakan PKI tahun 1965. Sama dengan polemik antara “Harian Merdeka” dengan “Harian Rakyat”. Polemik dihentikan oleh Pemerintah Indonesia.


Pendapat Dasman ditanggapi oleh Lubabun Ni’am dengan sama panjang:

Kalau Anda seorang peminat sastra dan sejarah, tentu saja berita plagiasi Hamka ini bukan tak pernah terdengar. Bagaimana mungkin aktor dan pemenang sejarah tak menjejali ingatan kita. Hanya saja, lamat-lamat berita itu perlahan tak digubris dalam mimbar akademik, lalu cepat-cepat saja dianggap sebagai “abab” yang dilancarkan oleh para pendulang sensasi belaka. Ini bukan skenario yang mengherankan. Sebab, pada dasarnya sejarah skandal plagiasi satu ini mesti diselesaikan bukan oleh mahkamah sastra kita, tetapi oleh birokrasi dan rezim yang kemudian hari tak hanya menutup skandal ini, tapi juga panggung gerakan kiri Indonesia.

Dan, Gus Muh menulis chronic sastra Indonesia ini secara chronicle sehingga plagiasi Hakma adalah satu persoalan. Persoalan lain, yang sekaligus menjadi konteks mengenai seteru idea sastra untuk sastra dan sastra untuk rakyat, adalah siapakah yang memulai pegang arit dan membabat habis roman berjudul Tenggelamnya Kapan van der Wijck. Roman yang pada mulanya merupakan cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masjarakat (1938) ini merupakan bestseller. Ceritanya tragis dan disukai pembaca roman masa itu. Tak ayal, setidaknya menurut rekaman Gus Muh, roman itu terjual sampai 80 juta eksemplar.

Tapi, justru karena ketokohan Hamka dan popularitas roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck, plagiasi Hamka akhirnya terbongkar. Mula-mula dari sebuah resensi-esei Pramoedya dalam halaman “Lentera”, Bintang Timur. Ketika itu, Pram masih menggawangi “Lentera”. Lembar kebudayaan yang sebelumnya bernama “Indonesia Muda-Bintang Press” ini mulai “mengeras” di tangan Pram. Hari Jumat, 12 Oktober 1962, Pram mulai menghunus arit ke permukaan roman penuh gulma karangan Hamka dalam “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”. Bagi Pram pribadi, roman Hamka tersebut sangat memukau, sampai-sampai membikin “menangis sendirian di sudut sunyi”. “Mengetuk gerbang hatiku,” kata Pram.

Namun, Pram bukan ingin menulis sebuah resensi-esei picisan yang mengumbar puja-puji pada sebuah karya yang kemudian dikuliti habis-habisan. Berawal dari ingatannya pada film berjudul Dumu el Hub (Airmata Cinta), Pram akhirnya hakulyakin bahwa Hamka menjiplak: “…apanya yang berbeda, temanya, isinya, napasnya, cuma tempat kejadian dan tokoh2nya yang disulap, dengan menggunakan warna setempat tentu….” Dumu el Hub sendiri merupakan film yang diadaptasi dari karya saduran Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman karya pengarang Perancis, Alphonse Karr, Sous les Tilleuls. Hamka diperkirakan menjiplak dari saduran Al-Manfaluthi, Majdulin. Dan, pembuktian atas tuduhan penjiplakan ini serius.

Setelah menabuh perang di hari Jumat, “Lentera” berturut-turut memuat tulisan Abdullah Sp berjudul “Sekali Lagi Membaca Buah Tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?”, “Aktor Tunggal dalam ‘Bohong’ di Dunia”, dan tulisan ketiganya yang digarap dengan kepala yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling, “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!”. Kalau dakwaan terakhir itu memuat perbandingan karya Hamka dan Al-Manfaluthi, pada edisi berikutnya, “Lentera” sampai membikin pembuktian dengan metode yang sangat serius. Pram memuat tabel-tabel “Idea Script I”, Idea Script II”, dan “Idea Strip” dalam bentuk ilustrasi gambar. “Lentera” bahkan menurunkan cerita bersambung karya Al-Manfaluthi/Karr dengan titel “Magdalena: Dibawah Naungan Bunga Tilia”. Semuanya itu dikerjakan oleh Abdullah Sp.


Kembali Dasman mengajukan tuntutan:

Seandainya pun dikatakan Plagiat, maka pada waktu itu tidak mungkin terjadi dua pendapat. Ada yang mendukung Hamka dan ada yang menuduh plagiat. Kebenaran belum dibuktikan. Tugas sastrawan-sastrawan muda lah untuk melakukan penelitian lanjutan. Bahkan yang mendukung Hamka adalah HB.Jassin dan kawan kawan. HB.Jassin bukan warga baru di dunia sastrawan. Ia mengerti betul apa yang dikatakan plagiat atau hanya sekedar fitnah atau adu domba. Memang sastra asing mempengaruhi pemikiran sastrawan Indonesia pada waktu itu. Tetapi kita bukan asal comot dan menjiplak. Kita masih tetap mengagungkan budaya kita, dalam hal ini Hamka selalu mengangkat budaya Minangkabau sebagai alur pikirnya. Oleh karena itu bukan plagiat namanya. Yang terjadi sebuah kreatifitas anak negeri. Akhirnya saya sependapat dengan pendapat HB.Jassin:

“Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri.. maka adalah terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”


M Shofa, mahasiswa yang baru saja menggondol gelar sarjana filsafat dari IAIN SUnan Ampel mengajukan pendapatnya:

Ada tiga metode yang dipakai oleh Abdullah SP untuk menunjukkan bukti-bukti plagiasi yang dilakukan Hamka. Pertama, metode idea Script. Metode ini merupakan metode baru dalam babak sastra Indonesia pada masa itu.Penerapannya dengan menyarikan beberapa gagasan lalu memperbandingkan kalimat demi kalimat yang tersusun berturut dalam bentuk surat. Disini sangat nampak sekali kemiripannya.

Kedua, metode idea strip. Metode ini berasal dari permainan jiplak anak-anak dengan menggosok-gosokkan pensil di atas kertas yang dilandasi mata uang hingga terbentuk gambar yang ada pada mata uang tersebut. Abdullah SP dan Bramasto membuat sketsa/gambar strip dari beberapa plot, dan hasilnya sungguh tak terbantahkan.

Ketiga, metode idea sketch. Metode ini adalah praktek dalam ilmu ukur untuk menvisualkan jumlah tokoh dalam kedua buku sebagai perbandingan. Dari sini saya tak ragu untuk mengatakan bahwa karya Hamka ini plagiasi.


Rama Prabu, penyair dari bandung itu kemudian urun rembug:


Setelah membaca Magdalena (Terjemahan A.S. Alatas dan M. Junus Amir Hamzah) dari karya Majdulin Al-Manfaluthi dimana beliau terjemahkan dari Karya Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleus. Kemudian membaca naskah yang menjadi polemik Tenggelamnya Kapak van der Wijk –Hamka. Serta setelah mengengok detail-detail yang coba dibuktikan dalam buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat (Gus Muh) saya berkesimpulan bahwa karya Hamka ini memang terlalu naif dan terlalu tidak jujur jika Hamka tidak mengakui bahwa bukunya memang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan lebih dekat dari urat lehernya karya terjemahan Manfaluthi.

Untuk tidak merendahkan beliau yang diakui sebagai seorang agamawan dan pengarang dengan karya yang banyak, saya lebih setuju buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk itu dikategorikan sebagai saduran. Hamka telah mengakui dalam pendaluan untuk cetakan keempat bahwa “di dalam usia 31 tahun (1938), masa darah muda cepat alirnya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, di waktu itulah “ilham” Tenggelamnya Kapan Van der Wijk ini mulai kususun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang kupimpin, Pedoman Masyarakat”. Sepertinya “ilham dan kata sentimen” inilah yang hendak dijadikan pembela karangannya, walau dengan tulisannya (maka ketika membacanya kembali, jalan cerita dan perasaan pengarang, yang menjadi inti buku, tidaklah diubah-ubah. Sebab dia adalah puncak kekayaan jiwa yang dapat diciptakan di zaman muda dan di zaman sebelum suasana merdeka) Hamka seperti sedang menampar muka sendiri dari pada kata “bercermin air”.

Dan buku AMHP menghimpunnya dengan cukup baik untuk soal bukti-bukti pragiat ini dari berbagai macam sudut pandang dan cara menakar, kegundahan Ki. Harkono Kamajaya (Pemimpin Umum UP. Indonesia) yang salah satu petinggi Majelis Luhur Tamansiswa yang menerbitkan cetakan ketiga (1985) buku Magdalena yang mengatakan bahwa “polemik itu niscaya tidak akan mencapai penyelesaian, sebab orang tidak dapat membenarkan atau membantah tuduhan plagiat tersebut sebelum membaca buku Majdulin” dan buku AMHP melengkapi pembenaran ini.

Seharusnya Hamka pun melakukan hal yang sama seperti Manfaluthi ‘tawadhu” dalam berkarya, walau kata Teeuw “Teks adalah milik bersama, bebas untuk dimanipulasi, dicocokkan, diciptakan kembali, sesuai dengan keperluan dan kemampuan para penyusun yang menganggap dari pencipta (seringkali juga sekaligus menjadi penyanyi dan penggelarnya), dan dengan minat pendengar dan penonton. Tapi kosep teks sebagai milik pencipta pertamanya, yang harus dihormati dan diabadikan dalam bentuk aslinya, pada umumnya tidak diketahui di Indonesia. Manfaluthi mengatakan “saya menjaga jiwa aslinya sepenuh-penuhnya dan mengikat diri saya sekeras-kerasnya. Saya tidak menyimpang kecuali dalam membuang beberapa kalimat yang tidak penting, menambah beberapa kalimat yang terpaksa saya tambahkan karena kaharusan terjemahan, pengolahan, penyesuaian tujuan dan maksud-maksud tanpa mengurangi nilai aslinya atau keluar dari lingkungannya”. Jadi saya kembali berharap kedepan tak ada lagi karya sastra yang kembar identik seperti yang terjadi pada karya Tenggelamnya Kapal Van der Wijk-Hamka dengan Majdulin/terjemahan Manfaluthi dari [Sous les Tilleus karya alphonse Karr] karena itu selain merendahkan proses penciptaan pada akhirnya juga menghinakan diri didepan sidang pembaca buku di seluruh dunia.


Siapa Abdullah SP?

”Satu hal yang membuat saya masih penasaran dengan buku ini adalah siapa sebenarnya Abdullah SP si pemicu isu plagiarisme Hamka,” kata Hernadi tanzil. “Buku ini tak menjelaskan siapa sebenarnya Abdullah SP selain keterangan bahwa beliau adalah penulis kelahiran Cirebon (1924) dan mulai menulis sejak revolusi di majalah Republik – Cirebon. Jika melihat metode perbandingan dan tulisan-tulisan Abdullah SP dalam buku ini sepertinya beliau bukan orang ’sembarangan’. Ada yang menduga bahwa Abdullah SP adalah nama samaran Pramoedya AT. Sayang buku ini tak mengungkap siapa sebenarnya Abdullah SP, apakah memang penulis tak mengetahuinya atau memang sengaja untuk tidak diungkapkan? Tak ada keterangan sedikitpun akan hal ini dari penulisnya.”

Sementara Lubabun Ni’am berpendapat lain:

“Gus Muh tak ragu menyebut bahwa Abdullah SP adalah Pramoedya Ananta Toer. Betapapun, dalam cerita bersambung “Magdalena”, nama “Abdullah SP” diubah menjadi “AS Patmadji”. Gus Muh tampaknya gatal untuk mengangkat kembali sejarah sastra Indonesia yang, lewat Pramoedya dan “Lentera”, sudah sejak lama bekerja untuk membasmi daki-daki di tubuh kesusastraan kita. Sekalipun, hingga kini, Hamka tetap merupakan sastrawan dan ulama terpandang. Mahkamah sastra kita tak pernah tuntas menghukum para plagiator. Malah kekejian rezim Orde Baru akhirnya menutup segala daya dan upaya menuju ke arah itu”.

Terlepas dari perdebatan itu, seluruh anggota sidang sependapat bahwa soal plagiasi ini memang belum ada jalan keluarnya di Indonesia. Untuk yang satu ini, Dasman menulis:

Lebih penting dari itu, kalau kita membaca buku karangan Muhidin M.Dahlan, dari halaman 214 dan seterusnya, bukan hanya Hamka yang dikutip melakukan plagiat. Sudah tentu dikutip dari Harian Bintang Timur. Di antaranya Chairil Anwar, Taufik Ismail, Seno Gumiro Ajidarma. Loh apa betul mereka plagiat? Apakah kita sudah membuktikannya? Sebetulnya yang diharapkan apakah kita bisa menyelesaikan masalah ini, kalau memang kita ingin menyelesaikannya.Kalau demikian bagaimana penyair-penyair ini di mata generasi muda? Bukankah tujuan mereka untuk memperkaya khasanah Indonesia.


Ni’am mengakui dengan pesimistis:

Buku kecil ini terbit setelah media sosial belakangan waktu lalu diramaikan oleh cerita pendek Dadang Ali Murtono berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon, puisi Kerendahan Hati-nya Taufik Ismail, dan cerita pendek Dodolit Dodolit Dodolibret karangan Seno Gumira Ajidarma. Karya-karya yang mengundang kegegeran publik itu direkam secara detail oleh Gus Muh. Tak lain sebagai upaya kita untuk mengingat. Ya, hanya mengingat. Pasalnya, mengutip Gus Muh, “Jangan-jangan soal plagiat, hanya penulis karya dan Tuhan yang tahu. Dan para pencurinya tetap pada kehormatannya.” Tak ada arit untuk membabat, tak ada palu untuk mendakwa.


Sumber: www.indonesiabuku.com, 23 Maret 2012
Read More..

Aku Mendakwa Hamka Plagiat! Komentar Anggota Sidang

"Tidak ada yang baru dengan buku ini, polemik ini sudah dihentikan di saat-saat pecahnya Pemberontakan PKI tahun 1965. Sama dengan polemik antara “Harian Merdeka” dengan “Harian Rakyat”. Polemik dihentikan oleh Pemerintah Indonesia." (Dasman Djamaludin, Sejarawan)

"Skandal plagiarisme Hamka yang terekam di lembar-lembar Bintang Timur/Lentera sudah sulit ditemukan, kalaupun masih ada mungkin sudah hampir lapuk dimakan usia dan tercecer di berbagai tempat. Skandal terbesar di dunia sastra ini hampir saja terkubur selama-selamanya dan hilang dari ingatan kita kalau saja buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat yang disusun oleh Muhidin M Dahlan ini tidak terbit beberapa waktu yang lalu. Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini." (Hernadi Tanzil, Resensor, Bandung)

"Muhidin (Gus Muh) kembali mengingatkan pada khayalak bahwa pernah ada polemik/palagan dalam istilahnya yang harus diketahui oleh generasi sekarang. Buku yang layak dan harus menjadi bacaan wajib para penggiat sastra."(Rama Prabu, Penyair, Dewantara Institut))

"Kalau Anda seorang peminat sastra dan sejarah, tentu saja berita plagiasi Hamka ini bukan tak pernah terdengar. Bagaimana mungkin aktor dan pemenang sejarah tak menjejali ingatan kita. Hanya saja, lamat-lamat berita itu perlahan tak digubris dalam mimbar akademik, lalu cepat-cepat saja dianggap sebagai “abab” yang dilancarkan oleh para pendulang sensasi belaka. Ini bukan skenario yang mengherankan. Sebab, pada dasarnya sejarah skandal plagiasi satu ini mesti diselesaikan bukan oleh mahkamah sastra kita, tetapi oleh birokrasi dan rezim yang kemudian hari tak hanya menutup skandal ini, tapi juga panggung gerakan kiri Indonesia. Dan, Gus Muh menulis chronic sastra Indonesia ini secara chronicle sehingga plagiasi Hakma adalah satu persoalan. Persoalan lain, yang sekaligus menjadi konteks mengenai seteru idea sastra untuk sastra dan sastra untuk rakyat, adalah siapakah yang memulai pegang arit dan membabat habis roman berjudul Tenggelamnya Kapan van der Wijck. Roman yang pada mulanya merupakan cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masjarakat (1938) ini merupakan bestseller." (M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S., peminat sejarah, bergiat di Komunitas Kembang Merak, Jogjakarta)

"Bagi saya, AMHP adalah lentera baru bagi dunia kepenulisan Indonesia, baik fiksi dan non-fiksi, yang tengah dijalari belukar gulma plagiarisme." (Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta)

"Buku ini hadir untuk memberikan pencerahan sikap pada pembaca agar bisa mengetahui mana padi mana gulma. Mana karya yang harus ditumbuh kembangkan, mana yang harus di babat pula. Sebab sejarah sastra adalah sejarah bangsa, sekelam apapun itu tetaplah ada dalam memori kolektif bangsa kita. Tak perlu lagi memperdebatkan seni untuk seni ataupun seni untuk rakyat. Yang harus dilakukan adalah kerja, kerja dan kerja. Karya, karya dan karya. Itulah yang harus dilakukan oleh generasi pasca Pram, pasca Jassin, dan pasca petarung-petarung dalam perang sastra 1960-an." (M Shofa As-Sadzili, Mahasiswa Theologi & Filsafat IAIN Sunan Ampel, Surabaya)

Sumber: www.indonesiabuku.com, 23 Maret 2012
Read More..

10 March 2012

Politik Selembar Foto

Foto hitam putih yang sudah kabur dan berbintik itu nyaris ada di semua halaman buku ketika cerita sejarah sampai pada babak “Pemberontakan” Madiun 1948. Enam mayat menggelimpang dalam galian besar yang dangkal. Tambang-tambang putih masih melilit leher dan tangan di belakang. Saling mengait satu dengan lainnya. Dan sesosok algojo yang mirip penggali kubur sedang memegang “benda” dengan dua tangannya.

Di bawah foto itu kemudian diberi keterangan: “Korban-korban keganasan PKI Madiun”. Foto itu terdapat di buku 30 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1960 (1995: 177)

Selalu saja, untuk menunjukkan kekejaman PKI, foto ini yang diajukan ke muka pembelajar sebagai satu-satunya saksi hidup yang mengutuk PKI dan gerombolannya. Foto ini nyaris suci dan terjaga dengan cara diproduksi dan reproduksi puluhan kali di puluhan buku ajar untuk mengukuhkan sejarah resmi penguasa.

Selembar foto kutukan kepada sebuah kaum pembunuh yang amoral itu kini dipertanyakan. Bukan gugatan dengan deret ukur argumen, tapi menampilkan semua frame foto itu. Foto-foto itu terdapat di buku Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 275-282) karya Harry A Poeze.

Dalam buku itu ditampilkan 10 frame foto. Rupanya foto yang tampil sendiri selama puluhan tahun itu adalah rangkaian peristiwa. Itu adalah frame ke sepuluh. Frame pertama bagaimana manusia-manusia bernasib buruk dalam kubur massal itu diinterogasi di bawah todongan senjata laras panjang. Frame berikutnya para tahanan itu diarak dari satu tempat ke tempat lainnya, disuruh menggali sumur matinya, kemudian ditembaki satu-satu. Yang belum mati dicincang bayonet dan kemudian diakhiri foto yang terdapat di buku-buku sejarah.

Di sinilah soalnya. Keterangan utama ke sepuluh foto itu adalah bahwa korban-korban itu adalah anggota PKI di Magetan, dan bukan korban kekejaman PKI. Lebih lanjut, tulis Harry Poeze, memang tak banyak foto yang menggambarkan kekejaman PKI dalam ofensi Madiun 1948.

Selain 10 foto yang membatalkan ruang sadar kita yang diringkus selama puluhan tahun, ditampilkan juga 5 foto pembantaian anggota PKI di alun-alun Magetan. Disaksikan ratusan warga, “algojo” PKI bernama Sipong itu dinaikkan di atas perancah tinggi. Tubuh bermandi darah itu kemudian dilempar dan warga diberi hak mencincangnya sampai mati. Nyaris sama dengan frame kamera video adegan pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik Banten dan petani Mesuji Lampung.

Dari foto-foto itu, tahulah kita foto bukan sekadar pelengkap dari teks pada sebuah buku. Foto memiliki peran penting, dan bahkan boleh dibilang kuat-otonom. Dan yang pasti foto menjadi saksi paling menggetarkan ketika sejarah sedang berlangsung.

Tak hanya foto “kekejaman PKI” yang punya takdir seorang diri maju ke hadapan mahkamah sejarah memberi pendapat visual pada sebuah peristiwa penting. Contoh lain adalah foto pembacaan teks Proklamasi dan pengibaran bendera sangsaka di Pegangsaan Timur Jakarta dari Mendur Bersaudara. Dua lembar foto—dan hanya dua-duanya di dunia—yang menggambarkan siapa saja yang terlibat dalam peristiwa sakral politik itu.

Tentu yang mencengangkan adalah selembar foto saat Presiden Sukarno dan Panglima Besar Jenderal Soedirman berpelukan di serambi Gedung Agung Yogyakarta, pada 10 Juli 1949.

Foto itu ingin memperlihatkan kepada rakyat bagaimana mesra dan akurnya pemimpin politik dan militer yang sebelum-belumnya terjadi keretakan yang hebat karena perbedaan strategi: diplomasi atau perang. Peristiwa itu adalah “politik foto” karena tak terjadi begitu saja. Sukarno-lah yang jadi sutradara mengatur pose berpelukan itu. Bahkan beberapa kali fotografer diminta Sukarno mengulangi ketika ia merasa kurang tepat.

Foto pun menjadi drama politik. Ia tak netral. Bisa diatur untuk kepentingan apa pun. Ketika ada peristiwa “penting”, dan saudara masuk dalam frame, pastilah saudara bernasib mujur atau malah buntung. Mujur, jika foto itu seperti peristiwa pembacaan teks Proklamasi. Tapi nasib buntung dan menerbitkan was-was ketika peristiwa dalam foto itu hal yang tak disukai penguasa (baca: tentara).

Demikian itulah yang digambarkan Milan Kundera di halaman pertama bukunya yang terkenal: Kitab Lupa dan Gelak Tawa (terbit pertama kali 1978): Bulan Februari 1948, pemimpin Komunis Klement Gottwald melangkah keluar menuju balkon sebuah istana Barok di Praha untuk berpidato. Salah satu pengapit Gottwald Clementis yang menanggalkan topi bulunya buat Sang Ketua karena salju lebat turun. Foto terkenal itu disebarkan ribuan kopi karena dipakai sebagai patok sejarah: di atas balkon itulah Partai Komunis lahir.

Empat tahun kemudian Clementis dituduh berkhianat dan digantung. Foto Clementis yang sudah kadung tercetak di foto bersejarah itu, oleh seksi propaganda partai, segera dihapus. Hasil croping itu: Gottwald sendiri berdiri di balkon. Satu-satunya yang tersisa dari Clementis hanyalah topi yang terpacak di kepala Gottwald.

Peristiwa “foto politik” itulah yang melatari munculnya kutipan paling terkenal dari Kundera: “Perjuangan manusian melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.”

Sumber: Koran Tempo, 10 Maret 2012
Foto: Facebook Hoesein Rushdy
Read More..

05 February 2012

Pram Mati Meninggalkan Polemik

Buku ini terbit sekira enam tahun setelah Pram mangkat atau 40 tahun setelah draf buku ini selesai dituliskan. Artinya, buku ini bukan buku yang ditulis ketika Soeharto tumbang, melainkan di masa ketika Pram dikucilkan dan semua suara diawasi. Di masa itu, sekadar mengepit (bukan membaca) buku Pram saja dianggap subversif.

Tapi penulis buku Keselarasan dan Kejanggalan (1985) yang nyaris klasik ini beruntung. Di saat kelompok Intelektual Indonesia hanya membaca Pram secara klandestin, ia leluasa menyigi nyaris semua karyanya. Perpustakaan Universitas Nasional Australia menyimpan dengan baik esei, cerpen, novel Pram yang diterbitkan di masa pemerintahan Soekarno berkuasa dan Lekra-PKI sedang tegak-tegaknya.

Savitri pulalah yang membantu Pram mengirimkan mikro film Gadis Pantai: untuk yang terkasih dan tersayang (buku pertama dari trilogi) yang dimuat secara bersambung di “Lentera”/Bintang Timur (61 kali pemuatan dan berakhir 23 Oktober 1962). Arsip berharga dari Australia itulah yang membantu generasi Indonesia warsa 80/90 mendapatkan perspektif baru ihwal perlawanan perempuan jelata Jawa, yang bagi Savitri lebih sublim ketimbang Bumi Manusia (hlm 140).

Genealogi perlawanan Pram menjadi fokus kajian Savitri yang mengantarkannya menggondol gelar doktor di Australian National University pada 1981. Ia menyusuri teks-teks yang diproduksi Pram dengan menampik cerita-cerita pribadi yang kere, minder, diusir mertua dan diceraikan istri karena jadi suami/sastrawan penganggur, dan terutama “anak mama” dengan tanggungan 7 adik.

Bagi Savitri, periode 1955-1956 adalah tahun peralihan Pram menjadi seorang yang sadar politik. Di tahun pasca kepulangan dari Belanda itu, ia menulis esei politik pertama berjudul “Djembatan Gantung dan Konsepsi Presiden” (Harian Rakjat, 28 Februari 1957). Adapun Januari 1959 adalah masa pendaulatannya berada dalam barisan “politik adalah panglima” tatkala Pram ditunjuk mewakili sastrawan Kiri berpidato di arena Kongres Nasional Lekra di Sriwedari Solo.

Di periode itulah Pram menjadi penulis esei yang tajam dan gahar. Eseilah yang mengantarkan Pramoedya menjadi sastrawan berpolitik. Yakni berada di belakang (ideologi) Sukarno. Antologi esei yang ditulis secara bersambung di Bintang Timur, Hoa Kiau di Indonesia, mengantarkannya ke penjara Angkatan Darat. Esei pulalah yang menempatkan Pram berada di nyaris semua polemik (sastra) di kurun 1960-1965.

Paling tidak, selain kasus PP 10/1959 (pengusiran jutaan Kaum Hoa Kiau), Savitri mencatat dua momen polemik yang menguras tenaga kreatif Pram yang membaptsinya sebagai eseis tangguh. (1) debat “Krisis dalam sastra Indonesia” yang membuatnya menarik garis benteng dengan budayawan Gelanggang; (2) konfrontasi dengan kubu yang menamakan diri “Humanisme Universal” yang pada 1963 dituding Pram sebagai kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang dipletoni HB Jassin dan Wiratmo Sukito.

Dari dua polemik itu, Pram menghasilkan puluhan esei yang disusun secara kronologis oleh Savitri. Termasuk eseinya yang paling trengginas: “Yang Harus Dibabat dan Yang Harus Dibangun” (“Lentera”/Bintang Timur, 10 Oktober 1962) dan “Tahun 1965: Tahun Pembabatan Total” (“Lentera”/Bintang Timur, 09 Mei 1965).

Jika pun Pram menulis novel, buku novel yang ditulisnya untuk kebutuhan laga. Misalnya, Sekali Peristiwa di Banten Selatan yang kemudian disadur Putu Oka Sukanta menjadi drama dua babak: Orang-Orang Baru di Banten Selatan. Drama yang dibintangi aktris cemerlang Lekra, Dahlia, beberapa kali dilarang pementasannya, antara lain di Riau dan Sumatera Timur.

Ada dua yang luput dari Savitri. Luput Pertama, posisi Pram sebagai redaktur halaman budaya “Lentera” saat menampilkan polemik plagiat Hamka. Dalam konteks polemik, posisi Pram di sini mirip komandan batalyon yang memobilisasi prajurit-prajuritnya. Di aras itu, Pram tak hanya menghantam praktik plagiat Hamka, melainkan juga menantang kubu Jassin dan antek-anteknya untuk turun palagan.

Luput Kedua, Savitri tidak memasukkan cerita bersambung Hikayat Siti Maria. Di roman karya Haji Mukti itu, Pram bertindak sebagai editor. Dari Pram kita kemudian tahu bahwa editor bukan profesi netral yang dipahami saat ini, melainkan posisi politis yang menentukan bagaimana sebuah karya ditempatkan dalam konteks pembaca. Puluhan tahun kemudian, atas dua profesi itu (redaktur dan editor), Pram dilabeli juru fitnah yang meludahi muka Buya Hamka (Taufiq Ismail) dan sekaligus sastrawan tukang selingkuh (Dwi Susanto).

Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi
Judul Asli: From Culture to Politics: The Writings of Pramoedya A Toer. 1950-1965, tesis Phd, Australian National University (1981)
Penulis: Savitri Scherer
Penerjemah: Dalih Sembiring, Astrid reza, Abmi Handayani
Tebal: xviii + 190 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2012


Pertama kali dipublikasikan Jawa Pos, 5 Februari 2012
Read More..

20 December 2011

Arsip Komunitas

Apa pentingnya arsip bagi komunitas? Komunitas apa pun itu. Soal itu yang menjadi muara mengapa LPM Ekspresi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan acara yang bertajuk: "Simposium Arsip dalam Jurnalistik" pada 22 Desember 2012 di Student Centre LT 3 Universitas Negeri Yogyakarta.

Pembicara yang tampil adalah Agus W dan Muhidin M Dahlan. Agus berasal dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y), sementara Muhidin M Dahlan dari "Warung Arsip" Indonesia Buku.

Bagian saya membincangkan apa pentingnya arsip, bagaimana mengarsip, dan untuk apa arsip itu digunakan. Read More..

Dari Madiun ke Penghancuran PKI

Menumpuk kajian tentang gerakan kiri bukan hobi, melainkan berjuang keras untuk fokus. Sebagaimana kata kakak klan yang sukses, Dahlan Iskan, pada November silam: "Dalam bahasa agama, 'tidak fokus' berarti 'tidak mengesakan'. 'Tidak mengesakan' berarti 'tidak bertauhid'. 'Tidak bertauhid' berarti 'musyrik'. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya 'godaan untuk berbuat musyrik'. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka."

Nah, apa nerakanya penulis? Tak memproduksi tulisan pada apa yang dipilihnya. Ke sana ke mari, seperti pemabuk saja.

Sebagai penghimpun naskah atau studi "Revolusi Belum Selesai" (1950-1965) dan penghikmat gerakan kiri (PKI), saya terus memantau kemunculan kajian-kajian terpilih yang dipajang di toko buku. Dan di penghujung tahun ini ada dua buku yang menyita perhatian:

- Olle Tornquist, Penghancuran PKI (Komunitas Bambu, 2011, 380 hlm)
- Harry A Poeze, Madiun 1948: PKI Bergerak (YOI+KITLV, 2011, 432 hlm)

Dengan mengumpulkan kajian utama, bekerja keras untuk mencari celah periode mana gerakan kiri paling gelap dalam tradisi penerbitan kita. Periode 1965 adalah yang paling sesak. Madiun 1948 lumayan sesak. Banten 1926 masih memanas. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Jadi teruslah mengumpul dan menyusun laporan pengintaian sebelum memutuskan topik garapan dan dengan menggunakan format tulisan macam apa.

Mari!

* Bersamaan dengan buku-buku itu, ikut pula di tas plastik belanjaan dari Shoping Centre Jogja di areal Taman Pintar 4 buku berikut ini (tema: buku dan catatan perjalanan)

- Cindy Gerard, Ksatria Idaman Sang Pustakawati (GM, 2006)
- Hermann Hesse, Stephen Wolf (Baca, 2011)
- Dean Koontz, The Novelist (Ufuk, 2009)
- Parakitri T Simbolon, Vademekum Wartawan: Reportase Dasar (KPG, 1997)
Read More..

22 October 2011

Ketua Aidit Pun Punya Buku "Traveling"

Buku catatan perjalanan menyinggahi negeri-negeri di luar Indonesia banyak sekali terbit. Melawat ke Barat karya Adi Negoro salah satu tonggak yang mesti disebut. Buku itu tiga jilid. Yang ke sini-ke sini malahan lebih banyak lagi. Nama Trinity adalah tonggak untuk perjalanan mengunjungi tempat-tempat dengan penulisan yang riang dan ceria. Terkadang juga menggelikan.

Model dan gaya menulisnya juga banyak. Ada yang fiksi, panduan, tulisan lepas seperti menulis di blog-blog pribadi. Juga ada yang menulis dengan perencanaan cara pandang. Misalnya hanya mengunjungi negara-negara serumpun, seperti negara beraliran "stan" seperti Pakistan, Afganistan, Tajikistan, dan Turkmenistan, seperti yang dilakukan Agustinus Wibowo.

Nah, pada tahun 1959, Ketua Aidit pun mengeluarkan buku catatan perjalanan. Pilihan negara yang dikunjungi pun bersesuaian dengan ideologi anutan: KOMUNIS. Negara-negara sosialis. Negaranya pun memakai "angka keramat": 9. Antara lain negara itu: Cekoslowakia, Hongaria, Jerman, Rumania, Bulgaria, Uni Sovyet, Tiongkok Vietnam, dan Korea.

Buku ini, seperti item negara pilihannya tentu saja tak ada cekikikan, ketawa ketiwi, ataupun ketakjuban melihat pantai dan foto-foto wisata. Semuanya dari pertemuan ke pertemuan antara pemimpin teras Partai Komunis setempat.

Ini memang wisata pemikiran dan jaringan komunis. Nah, untuk mengetahui sekilas bagaimana buku itu dituliskan, silakan ambil "e-book"-nya dari link di bawah ini:

1959 Dari 9 Negeri Sosialis (Aidit)_PKI, Komunis

Salam!
Read More..

03 October 2011

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

::honeylizious rohani syawaliah

Judul Novel: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Tebal: 261 halaman

Buku ini saya miliki sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya masih kuliah semester awal. Jujur waktu pertama memutuskan membeli buku ini karena saya melihat covernya yang menggambarkan seorang perempuan berkerudung yang kontras dengan judul novelnya sendiri. “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’.

Saya penasaran dengan isinya. Ada apa dengan ‘muslimah’ tersebut hingga memutuskan untuk menjadi ‘pelacur’?

Puluhan halaman pertama saya harus disuguhkan dengan informasi yang padat mengenai sang perempuan. Saya pikir bahasa novel ini terlalu berat untuk dipahami seseorang seperti saya yang sama sekali tidak tahu semua lokasi dan kampus yang ada dalam novel ini. Banyak orang yang merasa tersindir dengan kampus-kampus yang disebutkan dalam novel ini. Novel ini bahkan dianggap menghina instansi mereka.

Saya pikir itu berlebihan karena sebagai seseorang yang tidak tahu sama sekali isu yang diangkat oleh penulis tidak akan menganggap novel ini memuat sesuatu yang nyata.

Setelah melewati bab yang berat dan penuh dengan nuansa politik dan Islam. Akhirnya konflik mulai cair di pertengahan menuju akhir. Apabila kita telah menyelesaikan bab perkenalan yang lumayan sesak itu novel menjadi lebih menarik.

Seorang perempuan yang awalnya beriman pada Allah merasa dikhianati dengan keadaan yang diberikan padanya. Kemudian dia memutuskan untuk beriman pada Iblis. Novel menjadi lebih seru lagi ketika ‘muslimah’ tersebut benar-benar mewujudkan ‘iman’-nya kepada Iblis. Dia mulai mengenal narkoba dan seks bebas.

Nidah Kirani nama perempuan yang awalnya masuk dalam organisasi garis keras untuk menemukan titik kebenaran keislamannya. Dia berada dalam kebingungan ketika berkecimpung di dalamnya. Dia limbung dan tak ada yang membantunya memberikan jawaban.

Perempuan yang dulunya dikenal dengan kerudung besar dan pakaian takwanya kini berubah menjadi perempuan liar yang tak terkendali. Dia ingin Allah tahu bahwa dia tidak lagi percaya pada-Nya sehingga dia mulai menjadi seorang petualang. Dia berhasil menaklukan laki-laki yang dikenal dengan keislamannya. Aktivis dan dosennya pun dia taklukan dengan kecantikannya. Semuanya bersujud di bawah kakinya demi mendapatkan kepuasan (maaf) birahi.

Satu hal yang saya suka dari Nidah Kirani adalah keberaniannya dalam memilih jalan kehidupan yang akan ditempuhnya. Dia memang salah memilih tapi dia benar-benar total dalam menjalankan pilihannya tersebut. Dia memilih Iblis dan dia mendapatkan keiblisan yang dia dambakan tersebut. Sikap beraninya patut dicontoh untuk menjalankan kehidupan kita menjadi lebih baik. Kita semestinya kaffah dalam Islam. Sekaffah Nidah dalam Iblis.

Saya pikir jika saya berada di posisi Nidah, saya bisa jadi kecewa juga kepada Allah. Seseorang yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk menjalankan agamanya malah mendapatkan kenaasan. Hanya karena Nidah salah memilih organisasi.

Setiap orang punya sisi gelap. Jika tidak ingat dengan Allah, saya juga ingin melakukan banyak hal ini di dunia ini dengan sebebas mungkin. Setiap manusia punya dua sisi, gelap dan terang. Di antara dua sisi tersebut ada satu sisi abu-abu tempat kita memutuskan apakah kita ingin menjadi yang terang atau yang gelap. Kadang-kadang kita malah tidak bisa memilih dan malah terjebak dalam keabu-abuan. Saya pikir membuka topeng orang-orang yang dianggap aktivis atau orang yang paham agama itu menyenangkan. Membuka tirai yang memisahkan mereka dengan manusia biasa. Kemudian bisa berkata pada diri sendiri: "Ternyata dia sama saja dengan laki-laki biasa tidak bisa menahan nafsu birahinya."

Tapi saya bukanlah Nidah Kirani yang terjebak dalam kebingungan.

Saya suka sekali dengan novel ini. Menurut saya penulis berani mengambil risiko yang sangat besar ketika menerbitkannya. Dianggap sesat dan berniat merusak Islam tidak membuat dirinya menghentikan peredaran buku ini. Saya suka sudut pandang yang digunakan penulis untuk menunjukkan pada kita bahwa tidak selamanya dunia ini indah. Tidak selamanya pilihan kita itu benar. Penulis juga ingin menunjukkan pada pembaca inilah akibatnya jika kita salah memilih.

Bagian favorit dalam novel ini adalah ketika saya melihat sisi gelap Nidah Kirani. Ketika dia memutuskan 'menyembah' Iblis. Saya bisa merasakan menjadi Nidah tanpa menanggalkan nilai-nilai keislaman yang saya anut selama ini. Tapi saya kurang suka dengan pembukaan novel ini. Bahasanya sempat membuat saya pusing. Informasinya terlalu padat untuk novel yang tipis begini.

Sebenarnya saya ingin ending novel ini lebih indah. Saya ingin Nidah menikah dan menjalani kehidupan yang Islami. Tapi terlalu teenlit kalau happy ending jadi saya suka dengan ending yang dipilih penulis.

Novel ini cocok untuk usia 18 tahun ke atas karena ada adegan panas di dalamnya. Memang tidak vulgar tapi adegannya tetap tidak cocok untuk anak di bawah umur. Apalagi bahasa yang digunakan bukanlah bahasa yang mendayu-dayu, untuk yang kurang familiar dengan novel sejenis ini bisa menganggap bahasanya kasar atau terlalu ekstrim untuk anak-anak. Novel ini cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi 'gelap' sebentar. Mencoba pengalaman atau lebih tepat membayangkan menjadi Nidah Kirani. Bisa juga dibaca oleh orang yang belum mantap dalam memilih Islam agar bisa menjernihkan pikirannya menuju keislaman yang lebih kaffah.

Novel yang mengangkat sisi gelap seorang muslimah ini mendapatkan banyak kecaman. Padahal ini hanyalah novel. Novel itu fiksi. Ketika pembaca diberikan buku fiksi harusnya tahu bahwa isinya adalah kebohongan. Bisa jadi memang berasal dari kisah nyata dan bisa juga bukan, fiksi tetaplah fiksi. Jadi kenapa harus dianggap novel perusak Islam. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif bergantung pada kita ingin mengambil air yang keruh atau jernih.

Novel ini memang menghadirkan sesuatu secara negatif, tapi bagi pembaca yang bijaksana bisa menjadikan ini sebuah pelajaran moral agar kita tidak menjadi sang muslimah yang salah jalan. Bukannya menghujat novel ini sebagai perusak Islam. Di dalam novel ini, penulis hanya ingin menunjukkan individu-individu seperti apa yang bisa menyebabkan Islam tercoreng. Sekali lagi saya tegaskan yang rusak adalah individunya bukan agama.

Membaca novel ini seperti sedang menelanjangi diri kita sendiri. Banyak hal yang dibawa tokoh Nidah Kirani ada dalam kehidupan kita.

Islam tidak akan pernah rusak dengan adanya individu yang tidak beriman pada Allah.

Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp.

Rohani Syawaliah. Lahir di Bakau pada tanggal 26 Juni 1986, anak kedua dari lima bersaudara. Riwayat pendidikan, SD di SDN 21 Bakau, SMPN 1 Dungun Laut, SMAN 1 Pemangkat, di kabupaten yang sama yaitu Kabupaten Sambas. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa FKIP Untan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

69 KOMENTAR

Belo Elbetawi Oct 3, 2011 12:09 AM
Waah...mbaakkk, pinjem donk novelnye, jadi penasaran sama si tokoh, sebenarnya dia kenapa marah sama Tuhan..? *kayaknye seru banget tuh*

Bung Eko Oct 3, 2011 12:15 AM
Saya pernah baca novel ini, dan langsung merinding. Gila! Bisa-bisanya seseorang menyalahkan Tuhan-nya atas keadaan buruk yang ia terima? Bagus untuk cerminan, tapi buku ini bisa menjerumuskan orang-orang labil.
Btw, salam kenal.

honeylizious Oct 3, 2011 12:40 AM
@Belo Elbetawi: mahalan ongkos kirim buat minjemin sayang :) banyak kok di toko buku harganya murah

honeylizious Oct 3, 2011 12:43 AM
@Bung Eko: iya betul itu... salam kenal kembali :)

Pakde Cholik Oct 3, 2011 12:50 AM
Saya telah membaca dengan cermat artikel sahabat.
Saya catat sebagai peserta
Terima kasih atas partisipasi sahabat
Salam hangat dari Surabaya

honeylizious Oct 3, 2011 01:05 AM
@Pakde Cholik: terima kasih pak dhe... :)

SaladineCode Oct 3, 2011 01:09 AM
udah baca ^_^ buku produk liberal
orang labil bisa bahaya dan membuat salah kaprah .. benar2 perang pemikiran..
tega2nya menyalahkan tuhan (dalam tulisan)
jadi inget kisah nabi daud ^_^"

arr rian Oct 3, 2011 01:11 AM
wah...memang kontroversial tu novel kalo ceritanya begitu....
kenapa kecewa pada Allah SWT?
Sungguh patut keimanannya...
Ya, Iblis akan senang bekerjasama dengan hati yang melupakan Allah SWT..

Andy Oct 3, 2011 01:12 AM
Ya itu kenyataan yang sering kita jumpai dibanyak persipingan sudut kota besar yang penuh dengan rutinitas padat sehingga kadang kita berfikir ekstrim,tapi menurut saya Tuhan maha melihat & mendengar doa kaum'a yang selalu istiqomah dijalan'a walau berat untuk dibayangakan
Ditunggu kunjungan balik ya

honeylizious Oct 3, 2011 01:22 AM
@SaladineCode: iya :)

honeylizious Oct 3, 2011 01:22 AM
@arr rian: :)

honeylizious Oct 3, 2011 01:22 AM
@Andy: siap mengunjungi balik :)

bangauputih Oct 3, 2011 02:30 AM
pertama kali baca juga sekitar 5 tahunan lalu, waktu itu minjam dan covernya belum secantik itu. tidak ada gambar perempuan berjilbab. klo nggak salah yg saya baca emang cetakan yg pertama.
dan beberapa minggu lalu, suami saya lagi2 menemukan di gramedia, karena tertarik dengan covernya, ia membelinya. lagi-lagi covernya beda sama punya mba, lebih seram, eits, tepatnya lebih pas menggambarkan isi. perempuan cantik berjilbab, yang mengeluarkan air mata darah dan tatapannya penuh kebencian. saya sampe ngeri klo lama2 liatin covernya, hiii
saya suka karena bahasanya yang berat dan tingkat tinggi, tapi polos dan spontan apa adanya. tidak dibuat2. bener kata mba, penulis berhasil mengungkap banyak fakta yang sebenarnya banyak terjadi di antara kita dalam kisah nidah kirani ini, dan saya percaya, penulis sama sekali tidak berniat untuk merusak agama Islam yang menjadi aqidahnya sendiri.
sukses mba, saya suka reviewnya, sayang sekali saya kalah cepat dari mba memilih buku ini :)
salam hangat

puteriamirillis Oct 3, 2011 02:49 AM
serem ya? hati-hati jaga hati kita

honeylizious Oct 3, 2011 02:59 AM
@bangauputih: review juga dong kan pasti ada bedanya sudut pandang kita sayang :)

honeylizious Oct 3, 2011 03:00 AM
@puteriamirillis: jagalah hati jangan kau nodai :)

ketty husnia Oct 3, 2011 03:21 AM
saya udah pernah baca..latar gunungnya kalo ga salah merapi. bikin kaget..buku ini sensasional saat itu..kayaknya 10 th yg lalu..hmm..bener ga ya? yg jelas, setelah buku itu hadir, mahasiswa di yogya sebagian dilanda ..kegundahan.

NuellubiS Oct 3, 2011 03:23 AM
dari judulnya juga emang ga pantas sih mbak dibaca 18 tahun ke bawah. vulgar banget. frontal. :D

honeylizious Oct 3, 2011 03:27 AM
@ketty husnia: iya sempat banyak yang memboikot juga kabarnya tapi buku ini tak terbendung lagi karena banyak yang penasaran :)

honeylizious Oct 3, 2011 03:27 AM
@NuellubiS: nuel belum boleh bacanya ahahahahha

goodcrab Oct 3, 2011 03:32 AM
Wah10x Penulis novel tsb. kayaknya emang bener-bener mau menggambarkan bahwa kalo kita selalu terdorong, tercabik, terpuruk, tidak ada jalan lain selain menyalahkan Allah. Penulis berhasil banget menggambarkan dalam novel tsb. Demikian juga brilliant Honeylizious telah sangat memukau dengan reviewnya. Salut buat Hani. Semoga menang dalam kontesnya. Doa dari bunda.

honeylizious Oct 3, 2011 03:45 AM
@goodcrab: makasih doanya bunda :)

riez Oct 3, 2011 04:13 AM
Reviewnya berhasil membuat penasaran...pinjemin bukunya dong mbak..

thekupu Oct 3, 2011 04:17 AM
Waaaa, buku iniii, hufff... dah pernah kame buat reviewnye 3 tahun lalu, boleh dibaca dimari:

honeylizious Oct 3, 2011 04:17 AM
@riez: sayang kalo nggak punya, beli aja biar bisa dipinjemin buat teman2 dekat yang masih nggak yakin dengan kebenaran :)

Lidya - Mama Pascal Oct 3, 2011 04:23 AM
peserta pertama nih sepertinya han

Ami Oct 3, 2011 04:24 AM
hmmm... dalam kondisi apapun aku gak pernah menyalahkan Tuhan. Alhamdulillah... lagian, kita semua tahu kalo penyembah iblis kekuatan hanya sementara saja. malah sekarang bergabung dengan teman-teman melawan kekuatan jahat #weee...

Euis Maharani Rachmad Oct 3, 2011 05:18 AM
adek udh bace stengah punye kawan kak. nda suke. kontradiktif. seperti menghujat islam :(

al kahfi Oct 3, 2011 05:24 AM
semua org pasti mmg mempunyai sisi gelap,,tapi tujuan semua org hidup juga akhirnya tuk kebaikan,,,salam sahabat,,izin follow kalo berkenan di follow balik y

Djangan Pakies Oct 3, 2011 07:22 AM
mungkin novel ini cocok untuk pembaca yang berwawasan luas karena mampu mengambil makna dan maksud si penulis, tapi bagi orang yang awam tentu menjadi dilema sendiri
review yang menarik mbak

yuniarinukti Oct 3, 2011 08:29 AM
Wih.. cepet aja daftarnya Mbak.. :)
aku masih bingung mau review buku apa...

Endi Al-Chemy Oct 3, 2011 08:50 AM
ceritanya penuh makna, saya suka membaca novel seperti ini... :)

armae Oct 3, 2011 09:06 AM
tau novel ini waktu masih awal-awal kuliah di malang, kata teman, jangan baca kalo imannya belum kuat.
pas di rumah, sempat baca jugak dan papa kaget waktu liat buku yang sedang aku baca. katanya bikin sesat, buku gak bener itu. wajarlah menurutku ya, orang tua khawatir ttg apa apa yang dibaca anaknya.
tapi keseluruhan cukup baik. walopun menurutku ada beberapa bagian terutama tentang pemikiran si tokoh utama yang diulang beberapa kali. jadinya agak malas kalau harus membaca lagi. karena menurutku, buku yang bagus adalah buku yang tidak akan bosan dibaca untuk kesekian kalianya :)

honeylizious Oct 3, 2011 10:01 AM
@thekupu: siap mampir kakak

honeylizious Oct 3, 2011 10:02 AM
@Lidya - Mama Pascal: apakah saya terlalu bersemangat hingga tidak melihat deadlinenya masih panjang

honeylizious Oct 3, 2011 10:03 AM
@Ami: lagi pula ini hanya novel

honeylizious Oct 3, 2011 10:05 AM
@Euis Maharani Rachmad: harus diselesaikan baru tahu isinya.

honeylizious Oct 3, 2011 10:06 AM
@al kahfi: lagi pula ini hanya fiksi...

honeylizious Oct 3, 2011 10:07 AM
@Djangan Pakies: kalo bacanya dengan anggapan dari awal bahwa ini adalah fiksi pasti akan lebih jernih pikirannya.

honeylizious Oct 3, 2011 10:08 AM
@Endi Al-Chemy: saya juga :D

honeylizious Oct 3, 2011 10:10 AM
@armae: pengulangannya menyenangkan. Seperti ada penegasan di sana. Mungkin ortunya harus baca dulu biar paham yg dibaca anaknya adalah fiksi.

capcaibakar Oct 3, 2011 06:12 PM
PErnah baca ini waktu kuliah.. hasil minjem teman. tapi lupa isinya jadi mungkin ga terlalu berkesan buat saya. hihi.. waktu itu sih menurut saya, pemilihan judulnya yang sok-sokan memancing kontroversi. Taktik marketing yang aku ga doyan banget. :p

asuransioke Oct 3, 2011 06:17 PM
review novel ini sudah cukup jelas tentang penokohannya kok bisa mengambil jalan seperti ini ya ?, novel perlu juga untuk sebagai dunia pembelajaran, semoga review ini jadi pemenang ya gan dalam kontes ini, thanks

TechSega Oct 3, 2011 06:20 PM
Review yang bagus tokoh Kidah apa ada seperti ini ya di dunia nyata.... bisa saja novel ini kisah nyata.....? kren sob review-nya, semoga menjadi pemenang, thanks

Sepak Bola News = Soccer 足球新闻 Oct 3, 2011 06:41 PM
sepertinya novel ini cocok bagi yang berwawasan luas sob sehingga tidak terbuai dengan alur cerita, bisa sebagai bahan perbandingan dengan novel lainnya, review kren sob, thanks

Mel Oct 3, 2011 06:45 PM
Waah,, penasaran.. kayaknya bagus..
baca sinopsisnya agak ngeri juga sih..
betapa seorang yang lahir dan hidup dalam Islam, belum tentu mati dalam keadaan Islam
begitu juga sebaliknya
Makanya kita bener-bener mesti menjaga iman..
Semoga kita termasuk orang yang lahir, hidup, dan matipun dalam keadaan bertakwa

kumpulnet Oct 3, 2011 07:00 PM
dari rumah pakde, mampir mengunjungi peserta book review

honeylizious Oct 3, 2011 08:22 PM
@capcaibakar: bisa jadi itu taktik marketing tapi isinya juga sesuai kok dengan judulnya... heheheh

honeylizious Oct 3, 2011 08:22 PM
@asuransioke: thanks

honeylizious Oct 3, 2011 08:23 PM
@TechSega: makasih :)

honeylizious Oct 3, 2011 08:23 PM
@Sepak Bola News = Soccer 足球新闻: iya makasih :)

honeylizious Oct 3, 2011 08:24 PM
@Mel: amiennnnn

honeylizious Oct 3, 2011 08:24 PM
@kumpulnet: makasih udah mampir yahhh

Susindra Oct 3, 2011 11:41 PM
Baru tahu ada buku ini. Kelihatannya cukup menakutkan - lepas dari menarik dan uniknya ide cerita. Yah.... jika pembacanya salah mengartikan, bukan muslim kaffah yang didapat, tapi pengingkaran dan pembenaran diri sendiri.

Yunda Hamasah Oct 4, 2011 01:08 AM
Iya aku juga dah baca buku ini, sudah lama juga jadi agak lupa jalan ceritanya, hanya ingat intinya saja. Trims dah direview, semoga sucses kontesnya ;)

honeylizious Oct 4, 2011 01:49 AM
@Susindra: kalo saya sangat menikmati ceritanya karena serasa menjadi orang lain untuk sebentar.... tapi kurang mengaduk2 secara emosi sih, soalnya isinya kemarahan... apalagi tiap baca novel bawaannya adalah satu pikiran: ini fiksi gitu :)

honeylizious Oct 4, 2011 01:49 AM
@Yunda Hamasah: makasih udah mampir :)

Mukti Effendi Oct 4, 2011 10:11 PM
saya belum baca bukunya. tapi kalau boleh saya memberikan respon, dalam keadaan bagaimanapun tidak ada istilah Allah akan menginzinkan hambaNya menjadi pelacur. Tapi kalau Allah berjanji bahwa akan mengampuni hambaNya yang berdosa itu pasti asal hambanya mau tobat. Saya khawatir buku ini akan menjadi "inspirasi buruk" bagi para wanita yang ingin mengambil jalan pintas dalam menyelasaikan persoalan.

honeylizious Oct 5, 2011 12:22 AM
@Mukti Effendi: bisa ya bisa tidak sih :)

niee Oct 5, 2011 03:46 AM
Beneran berat deh novelnya.. #krik

Blogger Java Oct 6, 2011 07:57 PM
Wah... dari judulnya saja sudah heboh, apalagi isi bukunya.

Abi Sabila Oct 17, 2011 03:04 PM
Selamat, review ini telah terpilih sebagai pemenang di book review contest BlogCamp. Sekali lagi, selamat!

Lilih Prilian Ari Pranowo Jan 9, 2012 10:30 AM
pernah mbaca mbak. bukunya minjem sama penulisnya langsung, hehehe. btw, menurutku agak kasar dibanding cara penulisan dan penyampaiannya. padahal penulisnya gak.

Honeylizious Rohani Syawaliah Jan 9, 2012 09:23 PM
@yuniarinukti: ehehehehhe

Honeylizious Rohani Syawaliah Jan 9, 2012 09:24 PM
@niee: kruk :D

Honeylizious Rohani Syawaliah Jan 9, 2012 09:24 PM
@Blogger Java: heboh banget :)

Honeylizious Rohani Syawaliah Jan 9, 2012 09:25 PM
@Abi Sabila: makasih mas :)

Honeylizious Rohani Syawaliah Jan 9, 2012 09:26 PM
@Lilih Prilian Ari Pranowo: itulah enaknya jadi penulis, menulis sesuatu yang berbanding terbalik dengan kepribadian kita itu menyenangkan. Sejenak bisa menjadi orang lain.

Anonim Mar 3, 2012 06:35 AM
hadzana LLAH WA IYYAHUM.... amen....!

Sumber: www.honeylizious.com
Read More..

01 October 2011

Fredy S, Seks, dan G30S

Fredy SFredy S adalah satu dari delapan manusia yang jalan hidup dan bahkan biodatanya misterius dan (kadang) jadi kontroversi di Indonesia: Gunadarma (kepala arsitek Borobudur), penulis buku Darmogandhul yang tak pernah diketahui jatidirinya, Tan Malaka (politisi pengelana yang pada 2009 kuburannya ditemukan Kepala KITLV Belanda Harry A Poeze di Kediri), Supriyadi (pimpinan PETA Blitar), pemuda penyobek bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya, Ki Panji Kusmin (pengarang cerpen Langit Makin Mendung), dan Imam Sayuti alias Tebo (anak yang lahir dengan bulu tebal yang ditengara sebagai hasil persetubuhan antara gendruwo dan Nasikah di Jember; geger Jatim 1990).

Saya memasukkan Fredy S dalam deretan manusia misterius karena nyaris semua yang menggandrungi roman yang ditulisnya tak pernah tahu siapa dan di mana penulis ini berada (walau saya menduga ia adalah orang Sunda dan paling tidak lama hidup dalam tradisi oral Jawa Barat ketika saya pergoki kerap terbalik-balik menulis frase seperti ‘Fasilitas’ ditulis ‘Pasilitas’).

Kerjaan ini mirip ketika saya mencari sosok Ki Pandji Kusmin sewaktu mengeditori buku Langit Makin Mendung (2004) di mana pengantar saya dirutuki pemeran tokoh Aidit dalam film Pengkhianatan, Syub’asa, di majalah TEMPO, sebagai kesimpulan ngawur ketika saya mengatakan anak Ki Pandji Kusmin pernah kuliah di UGM yang artinya tokoh itu ada dan bukan rekaan H.B. Jassin.

Ketika roman seks mengalami orgasme yang kemudian ledakan buku seks itu didulangulang antara tahun 2002-2004, nama Fredy S adalah ikon. Ia penulis roman yang prolifik, lancar ceritanya, memikat plotnya, dan tentu saja merangsang insting purba pembacanya. Laki-perempuan. Apalagi dilengkapi dengan sosoknya yang misterius. Sempurna sudah.

Nyaris di semua romannya—dan ini menjadi ciri buku roman percintaan dan seks yang tak pernah menuliskan satu halaman biodata pengarang—hanya tercantum ini: Fredy Siswanto. Informasi lain-lain tidak. Orang hanya tahu, Fredy penulis seks. Coba saja ketik nama itu di mesin pencari internet, yang tersasar adalah seks. Semua-muanya seks atau pinjam istilah Arswendo Atmowiloto di awal 1990-an: leer. Di tema apa pun, leer menjadi mindset romannya.

Termasuk ketika Fredy S mengeluarkan roman yang panjang yang berlatar politik riuh PKI di sekitar tahun 1964-1965, peristiwa G 30 S, dan pembasmiannya oleh tentara dan eksponen mahasiswa 1966. Bandingkan dengan judul buku putih pemerintah keluaran Sekretariat Negara RI pada 1994: Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya.

Jarang ada roman yang mengangkat tema ini sebagai latar utama. Ajib Rosidi pernah bikin dengan judul: Anak Tanahair (1985). Saskia Wieringa pernah bikin Lubang Buaya (2003). Beda segalanya dengan Ajib dan Wieringa, Fredy S membawa tema ini dengan sangat menggairahkan ke pembaca novel pop dengan seks, cinta, perselingkuhan, pelacuran, pemerkosaan, penculikan, dan kekerasan sebagai latar mengiringi tahun-tahun mengerikan itu.

Roman G 30 S ala Fredy ini diterbitkan 4 tahun setelah Arifin C Noer merilis film kolosal legendarisnya pada 1984: Pengkhianatan G 30 S/PKI. Seri ini mencakup 6 roman (Heksalogi Terpidana): #1 Bercinta dalam Gelap, #2 Politik Bercinta, #3 Budak Kehormatan, #4 Penghias Kepalsuan, #5 Belenggu Dosa, dan #6 Badai Telah Reda. Dari segi volume halaman, masing-masing buku rata-rata 200-an halaman. Dilihat tebalnya (1200 halaman), pekerjaan Fredy ini tergolong serius.

Ceritanya: seorang wartawati bernama Tuti Adyatma, redaktur Warta Kota, terlibat perselingkuhan dengan anggota parlemen dan sekaligus Sukarnois: Kusup Tular. Ketika Kusup ngebet menjadikan Tuti sebagai istri dalam gelap sepenuhnya, Tuti menolak. Propaganda cinta pun ditebar. Tular menghubungi komplotan pemuda untuk memfitnah suami Tuti agar Tuti mau melepasnya. Intrik-intrik macam begini ditebar Fredy di ribuan halaman romannya.

Dalam roman ini, PKI dan seluruh keluarga besarnya (Pemuda Rakyat, Lekra, Gerwani), pejabat-pejabat di lingkaran Sukarno, adalah komplotan penjahat yang menghalalkan segala cara untuk tujuan politik dan tentu saja hasrat seksnya. Bagi manusia-manusia komunis adalah hal biasa melakukan kekerasan, penipuan, fitnah. Bahkan keluarga mereka terkesan tak ada yang beres. Kusup selingkuh dengan Tuti, istrinya selingkuh dengan sopir Kusup, sementara anak si Kusup selingkuh dengan pacar si sopir.

Ketika Kusup Tular misalnya, menawarkan “proyek seks” ke Pemuda Rakyat (tak eksplisit disebut), gerombolan itu minta syarat: Kusup Tular menggelontorkan dana untuk kelancaran kas sekretariat dan Kusup Tular tahu beres “proyek seks” itu.

Lain kali, ketika “proyek seks” ini hampir gagal total karena umpan pelacur bernama Giwani (Gerwani?) kepada suami Tuti hampir terbongkar, Kusdit dan Jono mengajukan syarat lain: Kusup Tular menandatangani persetujuan mengganyang Manikebu:

“Kami butuh dukungan Pak Tular. Tepatnya kawan-kawan budayawan…. (butuh sebuah) pernyataan politik… mengganyang Manikebu. Bila perlu beberkan latar belakangnya dengan Nekolim. Biar terasa lebih mantap.”; “(Tular): Ah, Manikebu itu kan kelompok kecil. Manifes Kebudayaan kan? Orang-orang itu kan cuma Jassin, Larto, Gunawan, Bur…” (Seri #2: 89-90)

Porsi dialog optimisme orang komunis macam begini disebar Fredy di banyak halaman, khususnya di seri #1-#3. Dan tentu saja dialognya terjadi di sudut cafe remang, di rumah pelacuran, resor Pulau Seribu, hotel mewah, atau dalam mobil di mana Tuti dan Kusup saling mengecup, saling meraba, dan berujung di atas ranjang.

Terasa sekali, tokoh Tuti di sini adalah korban seks ganas pejabat Sukarno yang—pinjam sebait sajak W.S. Rendra—“tiba-tiba tanpa ujung pangkal ia sebut kau inspirasi revolusi sambil ia buka kutangmu”. (1971: 24)

Tokoh-tokoh seperti Tuti itu—walau tak beres secara moral—dibalik Fredy menjadi srikandi yang berjuang di belakang Manikebu dan pers antikomunis untuk menghadapi komplotan pengacau politik Indonesia yang—lagi-lagi pinjam Rendra: “bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi sambil celananya basah”.

Terkesan kuat, Heksalogi Terpidana Fredy ini adalah sebuah pernyataan sikap sebuah orde, bahwa tak ada dalih apa pun membela komunis dan seluruh anasirnya dari dakwaan sejarah, khususnya terbaca di seri #4, #5, dan #6. Mereka harus diganyang sampai ke akar-akarnya. Tak boleh ada kasihan. Mereka pantas menerima karmanya. PKI-lah aktor utama dari semua kerusakan masyarakat.

Maka, Fredy pun menulis berulang-ulang frase ini tanpa ragu: “G 30 S/PKI”. Dalam soal pola penulisan frase kayak gini, maaf, Fredy S sekubu dengan Taufiq Is, khususnya di buku Prahara Budaya (1995) dan Katasrofi Mendunia (2004).

Kehadiran Heksalogi bertema politik, khususnya G 30 S ini, sekaligus mengingatkan bahwa penulis roman pop dan seks macam Fredy S tak boleh dianggap enteng dan remeh. Pekerjaan Fredy S ini adalah pekerjaan politik dengan konsentrasi utama menggarap pembaca roman-roman pop yang jumlahnya sangat besar.
Read More..

30 September 2011

2 Buku Putih, Satu Kesimpulan: PKI Penjahat!

Oleh: Muhidin M Dahlan

Jika ditanya buku apa yang paling berpengaruh di memori publik terkait dengan kisah di seputar gerakan pembunuhan perwira-perwira tinggi Angkatan Darat atau yang dikenal dengan “Gerakan 30 September”, maka jawabannya adalah karya Nugroho Notosusanto, Ismail Saleh, Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia (Jakarta: Intermasa, 1968) dan Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya (Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1994).

Dua buku ini adalah “buku putih”, bukan hanya karena memang sampul dasarnya adalah putih, tapi dua buku ini menjadi sikap resmi bagaimana institusi militer menafsir dan mengambil tindakan terhadap “Gerakan 30 September” tersebut. Semua cerita, skenario, dan juga pandangan-pandangan dalam melihat peristiwa itu mengacu pada cerita satu-padu: PKI yang melakukannya. PKI satu-satunya institusi politik yang melakukan perbuatan “biadab” itu.

Karena “biadab”nya, maka jutaan orang-orangnya harus dilenyapkan. Cerita tentang pelenyapan itu, kisah tentang Pembantaian Massal itu kemudian dipandang wajar dan PKI sudah sepantasnya menerima itu semua yang oleh karena itu tak perlu dicatatkan kronologisnya, bagaimana penggambarannya secara spesifik, bahkan menyebut jumlah berapa yang dibantai militer dan sipil bersenjata atas titah “negara” pun tak ayak dilakukan.

Dua buku putih, yang beredar di ribuan sekolah di semua strata, dari SD hingga Perguruan Tinggi, selama puluhan tahun, berhasil menanamkan pesan: PKI penjahat. Paham jahat ini tak layak hidup di bumi Indonesia yang berasaskan Pancasila di mana salah satu asasnya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nugroho Notosusanto, Ismail Saleh. Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia (Jakarta: Intermasa, 1989, xiv+240 hlm). Dicetak pertama kali oleh Pembimbing Masa, 1968.


Data:

Berita Acara Pemeriksaan (BAP) hasil interogasi dari tokoh-tokoh PKI, baik sipil maupun militer, yang didapatkan dalam sebuah upacara bernama "Mahkamah Militer Luar Biasa". BAP tokoh-tokoh yang dijadikan acuan: Njono (Jakarta), Sakirman (Jakarta), Sudisman (Jakarta), Sujono Pradigdo, Mayor Muljono Soerjowardojo (Jogja), Josep Rapidi (Surakarta), Letnan Satu Ngadimo Hadisuwignjo (Jakarta), Mayor Udara Sujono (Jakarta), Letnan Kolonel Untung Samsuri (Jakarta), Marsekal Udara Omar Dhani (Jakarta), Brigjend Soeparjo (Jakarta), Jatim Sudirahardjo (Surakarta), Soemarto (Surakarta). Termasuk belasan saksi yang dihadirkan yang mereka tak pernah divonis oleh pengadilan resmi mana pun. Tapi di mana BAP Sjam Kamaruzaman dan Pono? Tak ada Sumber-sumber lain adalah Laporan Kronologis yang disusun oleh Seksi Penerangan Komando Operasi Tertinggi Angkatan Darat tentang "fakta" G 30 S, seperti "Catatan/Fakta sekitar Peristiwa 'Gerakan 30 September' yang terjadi di daerah Jawa Tengah" atau Laporan tentang "G 30 S"/PKI Surakarta.

Sistematika Buku:
Buku yang berukuran 15 x 22 cm ini setebal 240 halaman. Dengan jumlah halaman seperti itu, sistematika dibagi tiga. Bagian pertama adalah "Kisah Kejadian" yang direkonstruksi Nugroho Notosusanto yang pernah menjadi Anggota Detasemen Staf Brigade 17 (1948), pengajar pada Sesko ABRI, dan Rektor UI. Nugroho adalah serdadu cum sejarawan cum sastrawan. Bagian ini mendapat porsi 63 halaman .

Di bagian inilah, rekonstruksi yang berdasarkan BAP yang diambil dari sebuah operasi pembunuhan massal dan penyiksaan yang tiada tara dibentuk. Pembaca akan "menikmati" bagaimana PKI "merencanakan" pengambilalihan kekuasaan. PKI adalah satu-satunya pengambil inisiatif dan pelaku. Semua unsur lain tak terdeteksi di sini.

Bagian Kedua adalah "Pembuktian" yang terdiri dari 56 halaman. Bagian ini disusun Ismail Saleh. Ia meniti karier militer sejak sersan tahun 1945 hingga Letnan Jenderal TNI-AD pada 1981. Adapun keahlian hukumnya diperoleh dari Perguruan Tinggi Hukum Militer. Ia juga pada 1976 memimpin Kantor Berita ANTARA, Skretaris Kabinet pada 1979. Pada 1981 menjadi Jaksa Agung dan tiga tahun kemudian ditunjuk sebagai Menteri Kehakiman R.I.

Di bagian ini Ismail Saleh membuka tiga halaman pertama papernya dengan legalitas Mahkamah Militer Luar Biasa yang dipusatkan di Gedung Bappenas Jl Suropati, Jakarta. Bahwa apa yang dilakukan rezim ini benar secara hukum. Bahwa seorang sipil sah dihadapkan di Mahkamah Militer yang umumnya menangani perkara anggota militer kalau keadaan dinyatakan membahayakan keselamatan dan keamanan negara.

Tujuannya tiada lain adalah "tidak dengan maksud membalas dendam atas kematian beberapa perwira Angkatan Darat... tidak pula membatasi diri hanya mengadili personil militer saja. Apabila Mahmilub berbuat demikian, berarti sama saja dengan mengakui bahwa Gerakan 30 September semata-mata adalah urusan intern Angkatan Darat, yang memang menjadi tujuan PKI". (h. 74)

Bagian Ketiga adalah "Gambar-Gambar". Enam gambar tentang peristiwa penggalian jenazah di Lubang Buaya, sepuluh gambar adalah foto wajah perwira-perwira Angkatan Darat yang terbunuh dalam rangkaian Gerakan 30 September (8 di Jakarta dan 2 di Yogyakarta), tujuh foto "gembong-gembong" pimpinan PKI, dua foto peritiwa di ruang sdang Mahmilub, serta dua foto tentang "kedekatan" Presiden Sukarno dan D.N. Aidit di hadapan massa PKI ketika berulangtahun ke-45 pada Mei 1965.

Dan Bagian Keempat adalah "Lampiran-Lampiran". Ada sembilan belas surat atau berkas yang terdiri dari Undang-Undang, keputusan-keputusan presiden, surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat selaku panglima operasi pemulihan keamanan, surat keputusan panglima Kostrad, salinan berita acara, hingga Dekrit No 1 Komando Gerakan 30 September yang dibacakan pada 1 Oktober oleh Letkol Untung di corong RRI. Lalu ada pula bagan kudeta, bagan susunan Staf Umum AD, bagan susunan Kodam, hingga bagan jalannya berkas perkara sampai penyerahan ke pengadilan.

Pola Penulisan:
Buku ini disusun secara kronologis dengan catatan kaki yang melimpah yang dijadikan rujukan penulisan. Dimulai penggambaran peristiwa yang dirancang Biro Khusus PKI dengan "gembong-gembong"nya yang lain di tubuh militer hingga proses pengadilan di Mahmillub. Nyaris penjelasan dalam buku ini mengarah pada satu titik: PKI adalah aktor perancang dan eksekusi semua perebutan kekuasaan.

Catatan Kaki:
Buku ini tak memberi celah bagi kecenderungan faktor-faktor yang lain di Jumat subuh berdarah itu. Misalnya, bahwa (1) G 30 S adalah bagian dari situasi internal Angkatan Darat yang memang goyah dianggap sebagai omong kosong; bahwa (2) G 30 S adalah konspirasi hasil bentukan CIA/AS nyaris tak disinggung; bahwa (3) Soeharto berada di belakang ini semua; bahwa (4) Sukarno sudah tahu kejadian G 30 S itu. Karena fokusnya hanya satu, bahwa satu-satunya penanggung jawab “kup” itu adalah PKI maka gerakan yang semuala hanya bertitel "Gerakan 30 September" itu kemudian diberi akronim lengkap G 30 S/PKI di mana sebelumnya tak ada tambahan “/PKI”.

Selain itu, buku ini, walaupun diterbitkan pada 1968, sama sekali tak menyentuh pembunuhan massal masyarakat Indonesia oleh peristiwa G 30 S ini. Judul "Tragedi Nasional" yang dibubuhkan penulisnya mesti dipahami tidak sebagai Tragedi Pembantaian Massal, tapi “sekadar” terbunuhnya 8 perwira Angkatan Darat di Jakarta dan Yogyakarta. Terbunuhnya jenderal-jenderal itu adalah tragedi nasional, sementara satu juta terbunuh rakyat Indonesia tidak dianggap sebagai sebuah tragedi.

Mari ke buku yang kedua.

Buku ini terbit 26 tahun setelah buku yang disusun Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh dan 10 tahun setelah Arifin C Noor merilis film kolosal layar lebar Pengkhianatan G 30 S/PKI yang panjang durasinya mencetak rekor sejarah: 4,5 jam.

Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya (Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1994, xvi+118 hlm)

Penulis dan Penerbit:
Tak ada nama penulis dalam buku ini. Pembaca hanya diberi tahu siapa penerbitnya, yakni Sekretariat Negara Republik Indonesia. Hal itu dipertegas dengan Kata Pengantar oleh Moerdiono selaku Sekretaris Negara. Di pengantar itu pula kita mendapatkan nama status buku ini, yakni: "Buku Putih". Umumnya, "Buku Putih" mendapatkan pengertian sebagai sikap resmi sebuah institusi atas sebuah peristiwa, dalam hal ini peristiwa yang berakronim abadi: G 30 S/PKI.

Data:
Dikutip dari buku dan putusan-putusan Mahmillub. Ada 26 buku yang dijadikan rujukan yang terdiri dari 4 karangan Aidit, 2 buku Nugroho Notosutanto, dan selebihnya buku-buku tipis terbitan Departemen Penerangan di era Presiden Sukarno yang umumnya pidato 17 Agustus setiap tahun.

Sementara itu, semua cerita direkonstruksi dari 24 Putusan Mahmillub terhadap Biro Khusus, anggota CC maupun CDB PKI, perwira-perwira yang terlibat dalam drama penculikan 1 Oktober 1965.

Dalam teknik penulisan data itu, catatan kaki dihilangkan oleh penulis yang tak disebutkan subjeknya.

Sistematika Buku:
Buku yang berukuran 15 x 22 cm ini setebal 291 halaman. Dengan jumlah halaman seperti itu, sistematika dibagi dalam sepuluh bab (173 halaman, sebut saja "Isi"), di luar daftar pustaka, glosari, biodata dan anteseden tokoh-tokoh PKI yang namanya terkutip, indeks, serta empat bagian lampiran (118 halaman). Bagian yang kedua itu sebut saja "Data".

Dilihat dari penjatahan halaman dengan skup bahasan yang luas dan kronikal, maka bisa dipastikan irama penulisan bergaya pendek-pendek yang langsung ke pokok soal. Di bagian "Isi" dijelaskan tentang kelahiran PKI, dua pemberontakan PKI yang "gagal", serta cerita bagaimana PKI membangun dirinya selama 15 tahun sebelum 30 September 1965. Di bagian "Isi" yang lain, dan ini menjadi spektrum utama buku ini, adalah penjelasan secara highlight dan menghentak bagaimana PKI merencanakan, mempersiapkan, dan melaksanakan perebutan kekuasaan. Dan pada "Isi" yang terakhir adalah penumpasan yang dilakukan Angkatan Darat dibantu dengan aksi massa selama dua tahun (1966-1968).

Pola Penulisan:
"Buku Putih" ini di bagian awal menjadi semacam biografi ringkas institusi politik bernama Partai Komunis Indonesia. Di 124 halaman penjelasan itu, partai ini digambarkan sebagai institusi politik yang suka bikin gaduh sejak tahun 1926, 1948, hingga 1965. Pemberontakan di Banten, Jakarta Raya, Jawa Barat, dan Sumatera Barat pada 1926 dan 1927 dipandang sebagai sebuah kejahatan politik (terhadap???).

Peristiwa yang dikenal dengan "Peritiwa Tiga Daerah" (Tegal-Brebes-Pemalang) pada Desember 1945 tidak dianggap sebagai bagian yang inheren terhadap sikap massa-rakyat dalam haru biru Proklamasi 1945, yakni pembebasan dari sikap tertindas bertahun-tahun oleh kolonialisme dengan para kaki tangannya pamongpraja, tapi dipandang sebagai usaha penyusupan ke organ-organ non komunis dan memanfaatkan organ-organ tersebut "agar dapat menyusun kekuatan baru guna merebut kekuasaan pada saat yang tepat di kemudian hari".

Peristiwa Madiun 18 September 1948 tiada lain dipandang sebagai usaha teror bersenjata, penculikan, dan pembunuhan. Kemenangan PKI pun yang mencengangkan pada Pemilu 1955 dilihat sebagai keberhasilan agitasi dan propaganda Aidit untuk mengkomuniskan Indonesia, PKI yang secara ideologis memandang Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa dipandang hanya akal-akalan saja.

Sementara di bagian "Isi" yang berikutnya, dan ini menjadi pokok utama buku ini, adalah bagaimana secara "sistematis" dan "terencana" PKI menyusun perebutan kekuasaan. Yang dimaksud "sistematis" dan "terencana" itu adalah PKI membangun sebuah "Biro Khusus" menggalang perwira-perwira di tubuh Angkatan Bersenjata di semua CDB. Walau "sistematisnya" dan "terencananya" hanya pada Biro Khusus yang tidak dikenal dalam struktur organisasi PKI, semua konsekuensi itu harus dipundaki PKI dan organ-organ “onderbouw”-nya di semua lini masyarakat.

Penjelasan pendukung atas term "terencana" dan "sistematis" itu adalah "fakta" bahwa PKI memanipulasi pidato-pidato Soekarno untuk menciptakan situasi offesif-revolusioner. Juga bagaimana kelihaian PKI menyusup ke dalam jajaran aparatur negara seperti Aidit, Njoto, Subandrio. Atau menyusup ke partai lain seperti Partai Indonesia (Partindo) dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Ali Sastroamidjojo dan Soerachman yang memimpin PNI dianggap sebagai PNI yang disusupi PKI.

Aksi-aksi massa yang berlangsung pada 1964, seperti Aksi Sepihak yang dilakukan Barisan Tani Indonesia (BTI) di Jawa Tengah (Klaten), Jawa Timur (Kediri), Jawa Barat (Indramayu), dan Sumatera Utara (Bandar Betsy, Simalungun) tidak dianggap sebagai ikhtiar menegakkan Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 yang mandek pelaksanaannya di lapangan, melainkan sebuah percobaan menguji se-offensif apa massa PKI yang sudah dimiliki. Aksi-aksi teror seperti Kanigoro (Kediri), perusakan kantor Gubernur Jawa Timur oleh demonstrasi Gabungan Organisasi Wanita Surabaya (GOWS), demonstrasi anti Amerika yang anti terhadap film-film Amerika, dan pengganyangan terhadap kelompok Manifes Kebudayaan yang melakukan pertemuan besar dengan tajuk Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI) dipandang sebagai percobaan-percobaan.

Slogan-slogan piato pimpinan PKI dalam pidato-pidato di hadapan massa seperti "Ganyang Malaysia", "Ganyang Kapbir", "Ganyang Nekolim" dipandang sebagai usaha mewujudkan situasi "ofensif revolusioner sampai ke puncaknya".

Semua peristiwa itu dinamai prolog. Pada waktu "perebutan kekuasaan" yang sudah ditentukan itu didukung CC PKI berdasarkan rapat Politbiro PKI yang ketiga 28 Agustus 1965. Di bawah restu Politbiro (Aidit, Njoto, Lukman, sakirman, Sudisman), rapat-rapat gerakan dilakukan. Semuanya dilakukan oleh Biro Khusus yang memang memiliki tugas mendekati dan mendidik perwira "berpikiran maju" di tubuh ABRI. Pembaca tak diber kesempatan mengidentifikasi mana Politbiro, mana Biro Khusus, mana CC PKI. Semuanya dianggap sama: PKI.

Porsi penjelasan dan detail penyiksaan tidak dibeberkan. Entah mengapa. Tak ada deskripsi mengerikan soal jenderal-jenderal yang disiksa secara mengerikan, kecuali paragraf ini: “Korban penculikan terdiri atas empat orang yang matanya ditutup dengan kain merah, dengan kedua belah tangannya diikat dari belakang, serta tiga orang lainnya lagi dalam keadaan meninggal.... Keempat orang yang masih hidup itu disiksa sehingga akhirnya meninggal. Selanjutnya para sukwan PKI melemparkan korban-korban itu ke dalam sumur.” (h. 103)

Setelah jenderal-jenderal dibunuh, setelah Dewan Revolusi diumumkan pada pagi harinya di RRI, di daerah-daerah basis PKI dinyatakan sudah “siap”. Namun kalah sigap oleh ABRI manunggal rakyat. Daerah-daerah yang dimaksud adalah Jawa Tengah (Semarang, Surakarta, Wonogiri), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur (Malang, Surabaya, Jember, Madiun), Sumatera Utara (Medan, Deli Serdang, Langkat, dan Simalungun), Sumatera Barat (Lubuk Alung), Riau, Bali, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Pembunuhan Jenderal di hari Jumat tanggal 1 Oktober itulah, menurut “buku putih” ini memicu reaksi spontan massa—saya ulangi: reaksi spontan—untuk menyerang semua markas PKI. Di mana-mana. Jadi, itu bukan dilakukan secara “sistematis” dan “terencana” melainkan luapan emosi yang spontan atas terfitnahnya jenderal-jenderal Angkatan Darat. Tak ada penjelasan apa pun berapa ratus ribu mangsa algojo-algojo massa yang “bereaksi spontan” itu, kecuali bahwa setahun tahun setelah itu ditengara PKI masih hidup dengan strategi barunya “kritik oto kritik” dan “tripanji”.

Misalnya, pembentukan Comite Proyek (Compro) di pelbagai tempat seperti Blitar Selatan. Atau Compro Jawa Tengah yang terdiri dari Compro Muria, Compro Sindoro-Sumbing dan Slamet, dan Compro Merapi-Merbabu.

Kewaspadaan itu yang kemudian menjadikan PKI sebagai bahaya laten yang sewaktu-waktu kemunculannya dengan dikukuhkannya TAP MPRS No XXV/MPRS/1996.

Buku Putih, Setelah Puluhan Tahun Berkuasa

Dua buku putih ini menegaskan: PKI-lah satu-satunya aktor yang jadi dalang dan pelaku sekaligus kup “Gerakan 30 September”, baik dalam pencetusan gagasan, kegiatan perencanaan, persiapan, maupun eksekusi. Kemudian di sini muncul andaian: jika Gerakan 30 September berhasil, maka PKI akan terkerek ke puncak kekuasaan dan membersihkan semua unsur yang menentang rencana dan garis PKI.

Akhirul kalam, buku ini mengakhiri paragrafnya dengan frase serupa doa dan sekaligus peringatan keras: “Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban yang dilancarkan oleh Pemerintah telah berhasil mengungkapkan dan menumpas jaringan-jaringan PKI... Sekalipun Komunisme di mana-mana mengalami kehancurannya, namun Marxisme dan ideologi Komunis tetap ada.” (h. 171)

Saya ingin menggarisbawahi paragraf awal tulisan ini ihwal bagaimana dua buku putih ini menancapkan pengaruhnya dalam memori kolektif masyarakat. Setidaknya beberapa pertimbangan:
  1. Buku ini adalah sikap resmi sebuah rezim yang dilindungi sepatu lars. Karena sikap resmi, maka tafsir lain tak dibenarkan hidup. Generasi pembaca yang lahir di tahun 60-an dan 70-an tak beroleh kesempatan secuil pun untuk mendapatkan bacaan lain di semua strata pendidikan. Inilah buku yang tafsirnya dijagai dengan senjata.
  2. Penulisan dua buku ini efektif. Ditulis tidak seperti detektif yang menyembunyikan teka-teki pelaku dalam peristiwa. Hanya satu fakta yang diyakini 100 persen kebenarannya: PKI dalang dan sekaligus pelaku pembunuhan jenderal-jenderal untuk merebut kekuasaan. Karena dakwaan sudah diberikan di awal, maka penjelasan berikutnya hanyalah mendaftar dakwaan-dakwaan.
  3. Buku ini berpretensi besar untuk “dipercayai”. Metodenya untuk mengambil nyaris 100 persen sumber pengakuan dari tokoh-tokoh PKI yang ditangkap dan di-Mahmillub-kan menggiring ke asumsi, lihat tuh PKI sendiri sudah ngaku. Pembaca tak dibiarkan berangan-angan bagaimana dan dengan jalan apa pengakuan itu dikorek dan didapatkan. Dengan pengakuan itu, maka fakta bahwa PKI bersalah menjadi sahih.
  4. Di ujung semua itu sulit sekali memberikan empati kepada pembantaian massal lantaran semua dakwaan hanya menunjuk pada satu titik: PKI-lah dan bukan yang lain-lain. Dan mereka “wajar” mendapatkan semua akibatnya.

Demikian beberapa poin bagaimana dua buku putih bertahan sebagai sebuah memori yang tak indah dalam samudera sejarah Indonesia pasca kemerdekaan.

#Dipresentasikan dalam studio Cine Book Club seri putar “Pengkhianatan G 30 S/PKI” (Arifin C. Noor, 1984)

Read More..